JAKARTA – Hamas menyerahkan jenazah empat sandera, termasuk bayi Kfir Bibas dan kakaknya, Ariel Bibas, yang menjadi korban termuda dalam serangan 7 Oktober 2023.
Menerima itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pun jelas tidak terima dan berjanji akan membalas menghancurkan kelompok tersebut.
“Darah orang-orang tercinta kita berseru dari tanah dan mewajibkan kita untuk menuntaskan perhitungan dengan para pembunuh keji. Dan kami akan melakukannya,” ujar Netanyahu dalam pernyataannya, seperti dikutip Reuters, Jumat (21/2/2025).
Empat peti jenazah yang berisi Kfir, Ariel, ibu mereka Shiri Bibas, dan Oded Lifshitz, diserahkan Hamas dalam prosesi publik di Gaza. Acara tersebut dipenuhi propaganda, dengan puluhan militan bersenjata dan kerumunan warga Palestina menyaksikan.
Sementara itu, di Tel Aviv, ribuan warga Israel berkumpul di Hostages Square, menangis dan berduka.
“Rasa sakit. Tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan ini. Hati kita, hati seluruh bangsa, terpecah berkeping-keping,” kata Presiden Israel, Isaac Herzog.
Serah terima jenazah ini dilakukan dalam kerangka gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir. Hamas sebelumnya mengklaim bahwa Kfir, Ariel, dan Shiri Bibas tewas akibat serangan udara Israel pada November 2023, tetapi klaim tersebut tidak pernah dikonfirmasi oleh otoritas Israel.
“Shiri dan anak-anaknya telah menjadi simbol,” ujar Yiftach Cohen, warga Kibbutz Nir Oz, komunitas yang kehilangan sekitar seperempat penduduknya dalam serangan 7 Oktober.
Sang ayah, Yarden Bibas, yang semula diyakini masih ditahan Hamas, akhirnya dipulangkan ke Israel dalam pertukaran tahanan bulan ini.
Sementara itu, Oded Lifshitz, jurnalis dan aktivis berusia 83 tahun, juga dikembalikan dalam kondisi tak bernyawa. Israel menyatakan ia dibunuh di dalam tahanan oleh Jihad Islam Palestina, sekutu Hamas di Gaza.
Menurut Chen Kugel, kepala Pusat Forensik Nasional Israel, Lifshitz telah dibunuh lebih dari satu tahun lalu, meskipun penyebab kematiannya tidak diungkap secara rinci.
Bagi Israel, serah terima jenazah ini bukan sekadar tragedi, tetapi juga pengingat akan kebrutalan Hamas.
“Empat peti mati ini membuat kita semakin yakin bahwa tidak boleh ada lagi serangan 7 Oktober kedua. Hamas harus dihancurkan,” tegas Netanyahu.
Israel terus menegaskan tekadnya untuk mengakhiri Hamas melalui operasi militer yang kini memasuki bulan ke-16 serta tekanan diplomatik terhadap kelompok tersebut.
Namun, perang ini juga telah menimbulkan kerusakan besar di Gaza, dengan otoritas kesehatan Palestina mengklaim lebih dari 48.000 warga Palestina tewas akibat serangan Israel.
Serah terima jenazah ini juga menuai kritik, terutama terkait cara Hamas memperagakan momen tersebut sebagai tontonan publik.
Volker Turk, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, mengecam tindakan Hamas sebagai “menjijikkan dan tidak manusiawi”, karena bertentangan dengan hukum internasional yang mengharuskan perlakuan bermartabat terhadap jenazah dan keluarganya.
Dalam acara tersebut, seorang militan Hamas berdiri di samping poster bergambar peti mati berbalut bendera Israel, dengan tulisan:
“Kembalinya perang = Kembalinya sandera Anda dalam peti mati.”
Pernyataan ini menunjukkan sikap Hamas yang tetap menantang, menjadikan sandera sebagai alat tawar-menawar politik.
Meski serah terima jenazah ini bagian dari kesepakatan gencatan senjata, negosiasi damai masih jauh dari kata selesai.
Pada Sabtu, Hamas dijadwalkan membebaskan enam sandera yang masih hidup sebagai bagian dari pertukaran dengan ratusan tahanan Palestina yang ditahan Israel.
Saat ini, sekitar 60 sandera masih berada di Gaza, dengan kurang dari setengahnya diyakini masih hidup.
Tahap kedua perundingan, yang mencakup kemungkinan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza dan penghentian perang secara permanen, diperkirakan akan segera dimulai.
Namun, dengan ketegangan yang masih membara, serta kebencian dan pembalasan yang terus menjadi fokus kedua belah pihak, prospek perdamaian jangka panjang tetap sangat tidak pasti.