JAKARTA – Aktor legendaris Jackie Chan kembali mengenang masa lalunya dengan membawakan ulang perannya dalam film ikonik Bruce Lee, Enter the Dragon, saat tampil di Festival Film Locarno, Swiss. Chan, yang dulunya hanya berperan kecil dalam film tersebut, mengungkapkan pengalaman uniknya saat syuting bersama Bruce Lee.
“Saya bukan Superman. Saya takut,” aku Chan saat sesi masterclass. “Sebelum melakukan adegan aksi, saya selalu bertanya dalam hati: ‘Apakah saya akan mati kali ini?’”
Dalam pertemuan yang penuh cerita itu, Chan mengulas awal kariernya yang berliku. “Itu cerita yang panjang,” katanya. Ia mengaku sempat menjadi anak yang malas dan nakal, hingga akhirnya sang ayah mengirimnya ke sekolah seni bela diri. “Saya suka berkelahi waktu kecil. Lalu ayah saya bertanya: ‘Kamu suka sekolahnya?’ Saya jawab: Suka sekali. Saya bisa tendang guru, pukul orang – apa saja yang saya mau,” ujarnya sambil berseloroh, dilansir dari Variety.
Perjalanan Chan dimulai dari dunia stuntman. Ia sempat tampil di film Fist of Fury milik Bruce Lee sebelum perlahan beralih menjadi aktor, terinspirasi oleh pengalaman masa kecilnya di lokasi syuting.
“Saya pikir: Film itu luar biasa – saya bisa punya kotak makan sendiri.”
Chan tampil memukau di hadapan penonton dengan gaya ceritanya yang penuh semangat. Ia bahkan beberapa kali meminta bantuan penonton untuk mengingat judul atau kata yang tepat. Ia juga membuka cerita personal tentang ayahnya yang jarang hadir, namun rutin mengirimkan rekaman suara.
“Kalau saya dengar sekarang, mungkin saya akan menangis,” ucapnya.
Chan yang dikenal ambisius, berusaha memahami dunia perfilman secara menyeluruh. “Saya bahkan berdandan sendiri – hanya untuk menunjukkan pada sutradara bahwa saya cukup baik.” Keinginan tersebut akhirnya membawanya ke kursi sutradara.
“Saya melakukan semuanya – sendiri. Sekarang saya bilang ke para pembuat film: ‘Kalau kamu cuma belajar menyutradarai, itu tidak cukup.’”
Menurutnya, penonton tidak peduli dengan kondisi di balik layar, mereka hanya ingin menikmati film yang bagus. “Penonton tidak tahu soal hujan, produser, atau pemotongan anggaran. Mereka hanya ingin film yang bagus. Itu selalu saya ingat, jadi saya mencoba membuat setiap adegan sesempurna mungkin.”
Ia juga mengkritik industri film modern. “Menurut saya, film lama lebih bagus dari film sekarang. Studio besar sekarang bukan pembuat film – mereka pebisnis. Sekarang sulit sekali membuat film yang benar-benar bagus.”
Di panggung Locarno, Chan bahkan kembali memperagakan sejumlah adegan laga ikoniknya – saking semangatnya, ia lupa masih memakai mikrofon.
Namun, kesuksesan di Amerika Serikat tak datang secepat yang ia kira.
“Saat itu saya adalah ‘Raja Asia’. Saya pikir saya akan menaklukkan Amerika, lalu saya datang dan bilang: ‘Saya Jackie Chan’. Mereka jawab: ‘Jackie siapa? Bruce Lee yang lain?’ Tidak ada yang kenal. Mereka bahkan tidak peduli dengan kemampuan bela diri saya. Mereka cuma ingin saya melayangkan satu pukulan seperti Clint Eastwood. ‘Make my day,’” ujarnya sambil menirukan dialog film Sudden Impact. “Tapi saya bukan Clint Eastwood!”
Chan pun kembali ke Hong Kong dan membuat film Police Story sebagai bentuk pembuktian. “Kadang, kamu tidak bisa hanya berkata. Kamu harus membuktikannya.”
Setelah sederet kegagalan, manajernya mendorongnya untuk mencoba sekali lagi.
“Waktu itu ‘Rush Hour’. Dia bilang saya akan berperan sebagai polisi dari Hong Kong, jadi saya tidak perlu bicara bahasa Inggris dengan sempurna. Sempurna – itu hal yang paling penting,” ujarnya sambil tertawa. “Saya rasa ‘Rush Hour’ mengubah budaya. Saya ingin jadi jembatan antara Tiongkok dan Amerika – dan sekarang Swiss juga.”
Chan menegaskan bahwa kunci dari film aksi tetap ada di cerita.
“Kami menganalisis naskah untuk mencari cara menggabungkannya dengan aksi. Kalau tidak, adegannya jadi tidak masuk akal. Saya lihat banyak film Amerika, bahkan Tiongkok – karakternya bertarung lalu… terbang. Kenapa? Karena asisten sutradara pertama dan kedua tidak sepaham. Jadi mereka superhero?! Aksi seperti ini bikin saya kesal.”
“Setidaknya film saya masih masuk akal,” tegasnya.
Chan juga menyebut dirinya terus belajar dan beradaptasi. Ia bahkan tak ragu untuk bernyanyi – yang menurutnya lebih mudah daripada bertarung. Ia ingin dikenal bukan hanya sebagai bintang laga, tapi sebagai aktor yang bisa bertarung.
“Hidup bintang laga itu pendek. Berapa banyak dari mereka yang masih bertahan? Jadi 15 tahun lalu saya bilang saya ingin jadi Robert De Niro-nya Asia,” ungkapnya.
“Baru sekarang orang bilang: ‘Jackie itu aktor yang bagus,’ dan karena itulah kalian memberi saya penghargaan ini.”
Pada Sabtu lalu, Jackie Chan menerima penghargaan pencapaian seumur hidup Pardo alla Carriera dari Festival Film Locarno.
“Ia benar-benar merevolusi film aksi,” ujar Direktur Artistik Giona A. Nazzaro. “Ada masa sebelum Jackie Chan, dan ada masa sesudahnya.”
Saat menerima penghargaan, Chan kembali mengenang pertanyaan dari sang ayah: “Saya umur 60. Apa kamu masih bisa bertarung kalau umur 60?” Saat itu Chan tidak bisa menjawab.
“Tapi sekarang saya 71 – dan saya masih bisa bertarung.”
