JAKARTA – Ditengah meningkatnya minat masyarakat terhadap kesehatan yang “alami”, banyak orang tua kini mempertimbangkan penggunaan obat herbal sebagai pilihan pengobatan untuk anak-anak mereka. Anggapan bahwa “obat herbal lebih aman karena berasal dari alam” telah merekat kuat dibenak banyak orang tua, meskipun beberapa fakta medis justru menunjukkan bahwa persepsi ini tidak selalu benar.
Obat Kimia: Standar, Terukur, dan Teruji
Obat kimia modern termasuk obat yang biasa diresepkan untuk anak seperti parasetamol, antibiotik, atau obat asma yang diproduksi melalui proses yang sangat ketat. Setiap obat harus melalui tahap uji praklinis di laboratorium, uji klinis pada manusia, serta penilaian keamanan dan efektivitas oleh badan pengawas kesehatan seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Indonesia atau FDA di AS sebelum diizinkan beredar.
Kelebihan utama obat kimia adalah dosis dan kandungan bahan aktifnya terukur dan konsisten, sehingga dokter dapat menentukan secara jelas seberapa banyak yang aman diberikan kepada anak berdasarkan usia, berat badan, dan kondisi kesehatan mereka. Obat-obat ini juga memiliki informasi lengkap mengenai efek samping, interaksi dengan obat lain, serta kontraindikasi yang mungkin terjadi.
Namun perlu diingat bahwa obat kimia juga tidak selalu bebas resiko. Beberapa anak bisa mengalami efek samping seperti alergi, gangguan pencernaan, sampai gangguan fungsi organ tertentu jika pengobatan diberikan dengan tidak tepat. Ini menjadi alasan mengapa penggunaannya tetap harus berdasarkan resep dan pengawasan tenaga medis.
Obat Herbal: Bukan Selalu Aman Sekadar Karena ‘Alami’
Sementara itu, obat herbal seperti jamu, teh herbal, atau suplemen berbasis tanaman banyak dipilih karena dianggap “lebih lembut” bagi tubuh. Penggunaan bahan alam memang sudah menjadi bagian budaya pengobatan tradisional di banyak negara, termasuk Indonesia.
Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa keamanan herbal tidak sejauh itu terjamin, terutama bagi anak-anak. Banyak obat herbal yang tidak memiliki standardisasi dosis yang jelas, sehingga kandungan zat aktif di dalamnya bisa sangat bervariasi antar produk atau bahkan antar batch. Hal ini membuat prediksi dosis yang tepat dan aman menjadi jauh lebih sulit dibanding obat kimia terstandar.
Lebih jauh, beberapa penelitian menunjukkan bahwa efek samping dari obat herbal sering dilaporkan tak kalah serius dibanding obat kimia. Ada laporan kasus efek toksik, gangguan neurologis, gangguan hati, sampai gangguan pencernaan di berbagai penjuru dunia akibat penggunaan produk herbal yang tidak teruji.
Karena alasan-alasan inilah, World Health Organization (WHO) sendiri menegaskan bahwa persepsi “alami berarti aman” adalah ilusi keselamatan, terutama jika digunakan pada anak yang sistem metabolisme tubuhnya belum matang.
Interaksi Herbal dan Obat Kimia: Risiko Tersembunyi
Satu hal yang sering terabaikan oleh orang tua adalah risiko interaksi obat. Obat herbal dan kimia bisa berinteraksi satu sama lain ketika dikonsumsi bersamaan, menghasilkan efek yang tidak diinginkan. Dalam beberapa kasus, herbal tertentu dapat memperkuat, melemahkan, bahkan mengubah cara tubuh memetabolisme obat kimia, yang berpotensi menyebabkan efektivitas pengobatan turun atau efek samping yang meningkat.
Selain itu, ada juga fenomena serius yaitu penambahan bahan kimia obat secara ilegal ke dalam produk herbal untuk membuatnya tampak lebih efektif. Bahan kimia seperti parasetamol, steroid, atau zat-zat farmasi lain terkadang ditemukan dalam sejumlah produk tradisional yang beredar di pasaran tanpa informasi yang jelas di label. Kondisi semacam ini bukan hanya membahayakan kualitas produk, tetapi juga keselamatan konsumen terutama anak-anak yang dosis tubuhnya jauh lebih sensitif.
Standarisasi, Regulasi, dan Peran BPOM
Di Indonesia, baik obat kimia modern maupun obat herbal yang legal harus melalui proses pendaftaran dan pengawasan oleh BPOM. Regulasi ini mencakup pemeriksaan mutu, keamanan, dan kandungan produk sebelum disetujui untuk diedarkan. Produk yang tidak memenuhi standar atau mengandung zat berbahaya tentu berisiko ditarik dari peredaran oleh pihak yang berwenang.
Namun kenyataannya, tidak semua produk di pasaran tercatat atau diuji secara memadai, terutama produk herbal produksi skala kecil atau rumahan. Oleh karena itu, orang tua perlu berhati-hati dan selektif dalam memilih produk kesehatan, termasuk memastikan status legal produk melalui label registrasi BPOM atau konsultasi dengan tenaga kesehatan.
Bijak dan Terukur adalah Kunci
Obat kimia dan obat herbal masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Obat kimia unggul dalam standardisasi, kejelasan dosis, dan dukungan bukti ilmiah yang kuat. Sementara obat herbal dapat menjadi pilihan pendukung kesehatan jika digunakan dengan benar, dilengkapi penelitian yang memadai dan di bawah pengawasan profesional kesehatan.
Yang paling penting adalah menghindari keputusan berdasarkan asumsi atau mitos, terutama untuk anak yang tubuhnya masih berkembang. Sebelum memberikan obat apa pun baik kimia maupun herbal pada anak, konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional untuk memastikan pilihan yang aman, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan medis anak.