JAKARTA — Tanggal 2 Oktober menyimpan dua peristiwa penting yang terpaut hampir delapan abad. Pada 2 Oktober 1187, Salahuddin Ayyubi berhasil merebut kembali Yerusalem setelah pengepungan terhadap kota tersebut. Berabad-abad kemudian, tanggal yang sama menjadi tonggak bagi batik Indonesia setelah UNESCO memasukkannya ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2009.
Peristiwa di Yerusalem menjadi salah satu titik penting dalam sejarah Perang Salib. Pada 2 Oktober 1187, kota tersebut menyerah kepada pasukan Salahuddin setelah pengepungan yang berlangsung sejak September. Penyerahan itu mengakhiri sekitar 88 tahun kekuasaan Latin Kristen atas Yerusalem yang dimulai sejak penaklukan kota oleh Pasukan Salib pada 1099.
Salahuddin atau Saladin, yang memiliki nama lengkap Salah al-Din Yusuf ibn Ayyub, merupakan penguasa Dinasti Ayyubiyah yang pada 1187 memperluas kendalinya di wilayah Palestina dan kawasan sekitarnya. Sebelum pengepungan Yerusalem, pasukannya lebih dulu memenangkan Pertempuran Hattin pada Juli 1187. Kemenangan tersebut membuka jalan bagi serangkaian penaklukan terhadap wilayah yang sebelumnya dikuasai Kerajaan Yerusalem.
Pengepungan Yerusalem kemudian berlangsung hingga 2 Oktober. Pertahanan kota berada di bawah Balian dari Ibelin. Setelah menghadapi tekanan pasukan Salahuddin, pihak pertahanan akhirnya menyepakati penyerahan kota melalui negosiasi.
Penyerahan tersebut memiliki arti penting karena Yerusalem merupakan salah satu pusat utama dalam konflik antara kekuatan Muslim dan Pasukan Salib. Berbeda dengan penaklukan Yerusalem oleh Pasukan Salib pada 1099 yang berlangsung dengan kekerasan besar, penyerahan kota kepada Salahuddin pada 1187 dilakukan melalui kesepakatan mengenai keselamatan dan keberangkatan penduduk Latin dengan ketentuan tertentu.
Catatan sejarah mengenai peristiwa tersebut kemudian menempatkan 2 Oktober 1187 sebagai salah satu tanggal penting dalam perjalanan Perang Salib. Penguasaan kembali Yerusalem juga menjadi bagian dari rangkaian perubahan besar kekuatan politik dan militer di kawasan tersebut.
Namun, 2 Oktober tidak hanya dikenang karena peristiwa di Yerusalem. Di Indonesia, tanggal yang sama justru identik dengan warisan budaya yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat, yakni batik.
Pada 2 Oktober 2009, UNESCO memasukkan Indonesian Batik ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. UNESCO mencatat batik Indonesia sebagai tradisi yang mencakup teknik, simbolisme, serta kebudayaan yang berkaitan dengan kain katun dan sutra yang dibuat melalui teknik pewarnaan menggunakan lilin.
Pengakuan tersebut menjadi dasar peringatan Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober di Indonesia. Pada 2026, momentum tersebut memasuki tahun ke-17 sejak batik Indonesia tercatat sebagai warisan budaya takbenda UNESCO.
UNESCO juga menilai batik tidak sekadar berkaitan dengan teknik pembuatan kain. Tradisi tersebut memiliki hubungan erat dengan identitas masyarakat Indonesia dan diwariskan dari generasi ke generasi. Motif serta simbol dalam batik turut merefleksikan berbagai pengaruh budaya dan perjalanan sejarah masyarakat Indonesia.
Dalam kehidupan masyarakat, batik digunakan dalam berbagai konteks, mulai dari kegiatan sehari-hari hingga acara khusus. UNESCO mencatat batik memiliki posisi dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak kelahiran hingga kematian, serta digunakan dalam berbagai kegiatan sosial, akademik, bisnis, dan upacara tradisional.
Penetapan tersebut juga diikuti upaya pelestarian. UNESCO mencatat adanya program pendidikan dan pelatihan batik yang ditujukan kepada generasi muda, termasuk melalui sekolah dasar, sekolah menengah, sekolah kejuruan hingga politeknik. Program tersebut bertujuan menjaga keberlanjutan pengetahuan dan keterampilan batik kepada generasi berikutnya.
Selain dua peristiwa tersebut, 2 Oktober juga tercatat dalam sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Indonesia.
Pada 2 Oktober 1988, Sri Sultan Hamengkubuwana IX meninggal dunia di Washington DC, Amerika Serikat, dalam usia 76 tahun. Tokoh yang memiliki nama lahir Gusti Raden Mas Dorodjatun itu merupakan Sultan Yogyakarta dan Wakil Presiden Indonesia kedua. Ia juga tercatat sebagai gubernur pertama Daerah Istimewa Yogyakarta setelah kemerdekaan.
Peristiwa duka lainnya terjadi pada 2 Oktober 2010 ketika dua kereta api bertabrakan di kawasan Stasiun Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah. Tabrakan melibatkan KA 116 Senja Utama Semarang dan KA 4 Argo Bromo Anggrek. Berdasarkan laporan akhir Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), kecelakaan tersebut menyebabkan 35 orang meninggal dunia serta puluhan lainnya mengalami luka.
Tanggal yang sama juga pernah menjadi bagian dari dinamika politik Indonesia. Pada 2014, Joko Widodo mengundurkan diri dari jabatan Gubernur DKI Jakarta setelah memenangkan Pilpres 2014 bersama Jusuf Kalla. Pengunduran diri tersebut kemudian membuka jalan bagi pergantian kepemimpinan di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Dengan demikian, 2 Oktober memiliki catatan sejarah yang beragam. Dari pengepungan Yerusalem dan penyerahan kota kepada Salahuddin Ayyubi pada 1187, hingga pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia lebih dari delapan abad kemudian, tanggal tersebut merekam peristiwa yang memiliki makna berbeda dalam perjalanan sejarah dunia dan Indonesia.