Francesco ‘Pecco’ Bagnaia mungkin sempat merasa frustrasi saat hanya meraih dua kali podium ketiga pada pembuka musim di Thailand tahun lalu. Namun, melihat betapa hancurnya performanya di sisa musim tersebut, hasil tersebut ia sebut “seperti sebuah keajaiban”.
Juara dunia MotoGP dua kali ini memang sempat naik ke podium ketiga sebanyak sepuluh kali di paruh pertama musim lalu—ditambah kemenangan di COTA dan posisi kedua di Qatar. Namun, ia harus berjuang mati-matian mencari kepercayaan diri saat masuk tikungan dengan motor GP25 miliknya.
Paruh kedua musim 2025 justru menjadi drama yang lebih ekstrem bagi Bagnaia. Meski berhasil memenangkan tiga balapan, ia gagal mencetak satu poin pun dalam 13 kesempatan lainnya. Hasil tersebut membuatnya merosot ke posisi kelima di klasemen akhir kejuaraan dunia.
Bangkit dengan Ducati GP26
Memasuki musim 2026, Pecco terlihat jauh lebih konsisten dalam tes pramusim dengan Ducati GP26 terbarunya. Pada tes Buriram akhir pekan lalu, ia mencatatkan waktu tercepat keempat dan menunjukkan ritme simulasi Sprint yang sangat solid, hanya kalah dari pembalap Trackhouse Aprilia, Ai Ogura.
“Saya menatap ke depan. Tes berjalan baik. Kami punya waktu untuk mencoba segalanya dan motor ini punya potensi bagus,” ujar Bagnaia menjelang seri pembuka akhir pekan ini, sebagaimana dikutip dari GPone.com.
“Persiapan saya jauh lebih matang dibanding tahun lalu. Dulu, finis ketiga di sini terasa seperti mukjizat di akhir musim. Jadi sekarang saya harus bekerja lebih baik agar siap bertarung di depan sejak awal.”
Ubah Pola Pikir dan Teknik Balap
Kegagalan musim lalu memberikan pelajaran berharga bagi pembalap asal Italia tersebut. Ia mengaku kini mendekati musim 2026 dengan mentalitas yang benar-benar baru.
“Tahun lalu adalah pelajaran besar bagi saya. Terkadang Anda bisa beradaptasi dengan masalah, tapi terkadang itu tidak mungkin. Jadi sekarang saya mencoba lebih tenang, bekerja lebih baik dengan mentalitas yang lebih kuat, dan menikmati setiap hasil semaksimal mungkin,” ungkapnya.
Secara teknis, Pecco juga melakukan revolusi pada gaya balapnya. Ia tak lagi hanya mengandalkan pengereman keras sebagai kekuatan utamanya.
“Sekarang semua orang mengerem dengan sangat keras, jadi saya mulai mengeksplorasi area lain yang kompetitif pada motor kami. Saat ini, saya merasa tidak perlu meminta apa-apa lagi dari motor ini.”
Bagi Bagnaia, target tahun ini sangat jelas. Hasil podium tidak boleh lagi dianggap sebagai keajaiban, melainkan rutinitas wajib.
“Saya berada di tim pabrikan Ducati, artinya saya punya motor terbaik. Hasilnya harus masuk tiga besar di setiap akhir pekan. Itu targetnya, tapi saya ingin memulai dengan tenang dan mencoba memperbaiki diri sendiri secara bertahap,” pungkasnya.