JAKARTA – Jerman dan Jepang mengumumkan akan membuka cadangan minyak strategis untuk meredam lonjakan harga akibat perang AS–Israel dengan Iran. Kelompok G7 menyatakan siap mengambil “semua tindakan yang diperlukan” bersama Badan Energi Internasional (IEA).
Dilansir dari Hurriyet Daily News, Rabu (11/3/2026), Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan pelepasan cadangan minyak bisa dilakukan paling cepat Senin (16/3/2026). Sementara Menteri Ekonomi dan Energi Jerman Katherina Reiche menegaskan negaranya akan memenuhi permintaan IEA untuk melepas sebagian cadangan, meski belum menyebutkan tanggal pasti.
IEA yang berbasis di Paris meminta negara anggota melepas hingga 400 juta barel minyak, jumlah terbesar yang pernah ada. Angka ini jauh melampaui pelepasan 182 juta barel pada 2022 saat Rusia menginvasi Ukraina.
Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi terkoordinasi G7. Presiden Prancis Emmanuel Macron akan memimpin konferensi video para pemimpin G7 untuk membahas dampak ekonomi perang.
Pasar minyak mentah mengalami volatilitas sejak akhir Februari, ketika AS dan Israel menyerang Iran. Teheran membalas dengan serangan rudal dan drone ke seluruh Teluk serta menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
Menurut analis Swissquote, pelepasan 400 juta barel hanya solusi sementara karena konsumsi harian negara anggota IEA mencapai 45 juta barel. Meski begitu, pengumuman ini membantu menstabilkan harga minyak pada Rabu.
Langkah Global Menghadapi Lonjakan Harga:
- Bangladesh mengerahkan tentara menjaga depot minyak
- India memperketat kontrol gas alam dan gas rumah tangga
- Prancis melakukan inspeksi di SPBU dan menindak pelanggaran harga
IEA mencatat 32 negara anggotanya memiliki lebih dari 1,2 miliar barel cadangan darurat publik, ditambah 600 juta barel cadangan industri.