ISLAMABAD, PAKISTAN – Upaya diplomasi damai langsung antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan berakhir tanpa kesepakatan. Di saat yang sama, jet tempur Pakistan melakukan pengawalan terhadap delegasi Iran yang kembali ke Tehran. Sejumlah pesawat tempur Pakistan dilaporkan mendarat di Pangkalan Udara King Abdulaziz, Provinsi Timur Arab Saudi, Sabtu 11 April 2026.
Menurut laporan Kementerian Pertahanan Arab Saudi, pengerahan tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian pertahanan kolektif yang ditandatangani Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pada September 2025. Kesepakatan itu menyatakan bahwa serangan terhadap salah satu pihak dianggap sebagai serangan terhadap keduanya.
“Pesawat-pesawat tersebut (campuran jet tempur dan jet pendukung) mendarat di Pangkalan Udara King Abdulaziz di Provinsi Timur Arab Saudi pada hari Sabtu,” demikian bunyi laporan tersebut seperti dikutip Al Jazeera, Minggu 12 April 2026.
Pakistan sendiri sedang menjadi tuan rumah perundingan tingkat tinggi antara delegasi Amerika Serikat dan Iran. Mediator Pakistan berusaha mendorong tercapainya kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung beberapa pekan terakhir.
Ketegangan di kawasan Teluk melonjak sejak Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke fasilitas Amerika Serikat di negara-negara Teluk. Serangan itu merupakan respons atas operasi militer AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada 28 Februari lalu.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar sebelumnya telah memperingatkan Teheran bahwa Islamabad terikat komitmen dengan Riyadh sesuai perjanjian pertahanan bersama. Dar juga menyatakan telah memperoleh jaminan bahwa wilayah Arab Saudi tidak akan digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran, meski serangan terhadap target di Saudi masih berlanjut.
Analis keamanan Pakistan Imtiaz Gul menilai langkah pengerahan jet tempur lebih bersifat sinyal politik daripada eskalasi militer sesungguhnya.
“Tiga jet tempur tidak akan membuat banyak perbedaan secara militer. Ini adalah pesan kepada Teheran untuk bersikap fleksibel dalam pembicaraan ini, tetapi juga menggarisbawahi kepada mereka bahwa Pakistan memiliki kewajiban berdasarkan perjanjian strategis bersama yang dimilikinya dengan Riyadh,” ujar Gul.
Sementara itu, analis Atlantic Council Michael Kugelman menyebut manuver Pakistan sebagai langkah berisiko tinggi.
“Ini adalah sinyal dari Pakistan kepada Iran bahwa jika Iran tidak bersedia membuat konsesi yang mengarah pada kesepakatan dan konflik berlanjut serta meningkat, ada kemungkinan Pakistan akan mendekatkan diri ke Arab Saudi dan mungkin mengaktifkan pakta pertahanan bersama,” kata Kugelman.
Perkembangan ini menambah kompleksitas situasi keamanan di Timur Tengah. Pakistan, yang selama ini berusaha menjaga keseimbangan hubungan dengan kedua pihak, kini terlihat semakin condong menunjukkan komitmennya terhadap pakta pertahanan dengan Riyadh.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Teheran maupun Washington mengenai kegagalan putaran perundingan terbaru di Islamabad. Situasi kawasan tetap tegang, sementara jet tempur Pakistan yang mendarat di Arab Saudi terus menjadi sorotan sebagai simbol diplomasi yang kini bercampur dengan dinamika pertahanan regional.