BORDEAUX, PRANCIS – Langkah besar modernisasi alutsista Indonesia semakin nyata. Jet tempur Rafale B pertama untuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) telah terlihat di fasilitas produksi Dassault Aviation di Bordeaux, Prancis. Pesawat berteknologi canggih dengan nomor seri T-0301 ini menandai tonggak penting dalam kerja sama pertahanan Indonesia–Prancis, memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan regional di tengah dinamika geopolitik Asia-Pasifik.
Pesawat Rafale B, varian dua kursi yang dirancang untuk misi multirole, menjadi bagian dari kontrak pengadaan 42 unit jet tempur yang diteken Indonesia.
“Kita rencananya akan mengakuisisi 42 pesawat Rafale. Kita mulai hari ini dengan tanda tangan kontrak pertama untuk enam pesawat,” ujar Presiden Prabowo Subianto saat mengumumkan kesepakatan awal pada Februari 2022.
Kontrak pengadaan ini terbagi dalam tiga tahap: enam unit pada September 2022, 18 unit pada Agustus 2023, dan 18 unit lagi pada Januari 2024. Total nilai kesepakatan mencapai sekitar USD 8,1 miliar, termasuk persenjataan, pelatihan, dan dukungan logistik.
“Di tahun depan, sekitar Februari atau Maret, kami sudah mulai kedatangan pesawat Rafale, tiga pesawat, dan tiga bulan kemudian tiga pesawat lagi,” kata Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Tonny Harjono, menegaskan kesiapan TNI AU menyambut armada baru.
Rafale, jet tempur generasi 4.5, dikenal dengan kemampuan serbaguna, mulai dari superioritas udara, serangan presisi, hingga pengintaian.
Pesawat ini dilengkapi sistem persenjataan canggih seperti roket HAMMER, bom pemandu laser PAVEWAY, dan meriam 30 mm, menjadikannya tulang punggung pertahanan udara modern.
Indonesia bergabung dengan negara-negara seperti Prancis, India, Mesir, dan Uni Emirat Arab sebagai operator Rafale, menggantikan armada tua seperti F-5 Tiger dan Sukhoi Su-27/30.
Untuk mendukung operasional, TNI AU telah menyiapkan dua pangkalan utama, yakni Lanud Roesmin Nurjadin di Pekanbaru dan Lanud Supadio di Pontianak. Persiapan meliputi pembangunan hanggar pintar, simulator penerbangan, dan sistem logistik. Kunjungan perwakilan Dassault Aviation dan Thales Prancis ke Lanud Roesmin Nurjadin pada Juli 2025 memastikan kesiapan infrastruktur.
Kerja sama ini juga mencakup transfer teknologi dan kemitraan industri. Nota kesepahaman antara Dassault Aviation dan PT Dirgantara Indonesia memungkinkan pemeliharaan serta perbaikan Rafale di dalam negeri, memperkuat industri pertahanan nasional.
“Pilihan ini menunjukkan kepercayaan Indonesia terhadap Prancis sebagai bukti kemitraan strategis kita sangat kuat dan dinamis,” ujar Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Florence Parly.
Kedatangan Rafale pada 2026 diharapkan memperkokoh pertahanan udara Indonesia, terutama di kawasan strategis seperti Laut China Selatan. Dengan teknologi mutakhir dan kemampuan tempur yang terbukti di medan konflik seperti Afghanistan dan Irak, Rafale menjadi perisai baru di langit Nusantara, menegaskan komitmen Indonesia menjaga kedaulatan wilayah.