YAMAN – Jet tempur canggih milik Angkatan Laut Amerika Serikat, F/A-18 Super Hornet, terjun ke laut dari kapal induk USS Harry S. Truman . Kejadian ini dipicu oleh manuver tajam kapal induk untuk menghindari ancaman serangan dari kelompok Houthi di Yaman. Tak hanya pesawat senilai lebih dari Rp1 triliun, sebuah traktor penarik juga ikut terjatuh ke laut, meninggalkan satu personel dengan luka ringan.
Kronologi Insiden: Ketegangan di Tengah Laut Merah
Menurut laporan resmi Angkatan Laut AS, jet tempur F/A-18E Super Hornet yang ditugaskan ke Strike Fighter Squadron 136 sedang ditarik menuju hanggar kapal induk saat insiden terjadi.
Kapal induk USS Harry S. Truman, yang tengah beroperasi di wilayah konflik Laut Merah, melakukan gerakan zig-zag dengan kecepatan tinggi untuk mengelak dari serangan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Seorang pejabat AS, yang memilih anonim, mengungkapkan kepada CNN, “Jet tempur F/A-18E itu terjatuh dari USS Harry S. Truman ketika kapal induk AS itu sedang berbelok tajam untuk menghindari tembakan kelompok Houthi, yang bermarkas di Yaman.”
Akibat manuver ekstrem ini, kru kehilangan kendali atas pesawat, menyebabkan jet tempur dan traktor penariknya terlepas dari dek dan tenggelam di laut.
Angkatan Laut AS menegaskan, “USS Harry S. Truman kehilangan sebuah F/A-18E Super Hornet yang ditugaskan ke Strike Fighter Squadron 136 serta sebuah traktor penarik saat kapal tersebut beroperasi di Laut Merah, 28 April,” seperti dikutip dari Sputnik, Selasa (29/4/2025).
Beruntung, semua personel di dek kapal selamat, dengan hanya satu kru mengalami cedera ringan.
Latar Belakang Konflik: Houthi vs AS di Laut Merah
Laut Merah menjadi medan pertempuran sengit sejak kelompok Houthi meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal komersial dan militer di jalur perdagangan internasional. AS, bersama sekutunya, mengerahkan kapal induk seperti USS Harry S. Truman untuk melancarkan serangan udara ke Yaman guna menekan militan Houthi. Namun, serangan balasan Houthi, termasuk peluncuran rudal balistik dan drone, terus mengancam armada AS.
Insiden ini bukan yang pertama bagi USS Harry S. Truman. Pada Desember 2024, sebuah F/A-18F Super Hornet lainnya jatuh akibat “tembakan ramah” dari kapal penjelajah USS Gettysburg. Kejadian tersebut, yang dikenal sebagai insiden blue on blue, menunjukkan tingginya ketegangan dan risiko di wilayah operasi. Kini, kehilangan jet tempur kedua dalam waktu kurang dari enam bulan menambah sorotan pada operasi militer AS di Timur Tengah.
Dampak dan Nilai Kerugian
F/A-18E Super Hornet bukanlah aset murah. Dengan harga lebih dari US$60 juta (setara Rp1 triliun), kehilangan jet tempur ini menjadi pukulan finansial bagi Angkatan Laut AS. Meski demikian, pihak militer AS menegaskan bahwa kelompok serang kapal induk dan sayap udaranya tetap mampu menjalankan misi secara penuh pasca-insiden.
Respons dan Kontroversi
Kelompok Houthi belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden ini, namun serangan mereka terhadap kapal induk AS sebelumnya telah diklaim sebagai respons atas operasi militer AS di Yaman. Pada Januari 2025, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa mereka meluncurkan dua rudal jelajah ke USS Harry S. Truman, meskipun klaim tersebut belum dikonfirmasi oleh AS.
Sementara itu, beberapa unggahan di platform X mencerminkan sentimen publik. Seorang pengguna menulis, “Houthi Yaman Ngakak!” merujuk pada laporan CNN tentang insiden ini, menyoroti bagaimana manuver kapal induk AS justru menyebabkan kerugian besar.
Namun, informasi dari X harus diperlakukan dengan hati-hati karena potensi klaim yang tidak diverifikasi.
Apa Selanjutnya untuk AS di Laut Merah?
Insiden ini menambah daftar tantangan yang dihadapi AS dalam menjaga keamanan jalur pelayaran di Laut Merah. Dengan meningkatnya serangan Houthi dan kerugian aset militer bernilai tinggi, tekanan kini tertuju pada strategi AS untuk menyeimbangkan operasi militer dengan risiko kerugian lebih lanjut. Kapal induk USS Harry S. Truman, yang juga pernah bertabrakan dengan kapal kargo di Laut Mediterania pada Februari 2025, tetap menjadi tulang punggung operasi AS di kawasan.
Kehilangan jet tempur F/A-18 Super Hornet di Laut Merah menjadi pengingat akan kompleksitas dan bahaya operasi militer di zona konflik.
Manuver ekstrem untuk menghindari serangan Houthi berujung pada kerugian besar, baik dari segi finansial maupun operasional.
Meski Angkatan Laut AS menegaskan kesiapan mereka, insiden ini memicu pertanyaan tentang efektivitas dan risiko strategi militer di wilayah yang semakin memanas.