JAKARTA – Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), Kamala Harris melontarkan kritik keras terhadap serangan militer AS ke Iran yang disebutnya sebagai upaya “perubahan rezim”. Harris menuduh Presiden Donald Trump menyeret negaranya ke dalam perang yang tidak diinginkan rakyat Amerika.
“Izinkan saya memperjelas. Saya menentang perang perubahan rezim di Iran, dan pasukan kita ditempatkan dalam bahaya demi perang pilihan Trump,” tulis Harris di akun X resminya, dikutip dari The Hill, Minggu (1/3/2026).
Harris menilai serangan yang dipimpin AS merupakan langkah berisiko dan tidak perlu. Ia menuding Trump berbohong saat kampanye dengan janji mengakhiri perang, bukan memulainya.
“Kemudian tahun lalu, dia berkata, ‘Kita telah menghancurkan’ program nuklir Iran. Itu juga bohong,” ujar Harris.
Politikus Demokrat itu menegaskan dirinya bersama mantan suami Wakil Presiden Doug Emhoff akan “berdoa untuk semua prajurit pria dan wanita pemberani AS”. Menurutnya, mereka layak mendapatkan Panglima Tertinggi yang mengambil keputusan perang dan damai dengan keteguhan serta disiplin.
Harris menyebut serangan AS ke Iran “tidak bijaksana, tidak dapat dibenarkan, dan tidak didukung oleh rakyat Amerika”. Ia juga menyoroti Trump yang tidak memperoleh persetujuan kongres untuk melancarkan serangan.
“Tidak ada keraguan dalam penentangan kami terhadap perang pilihan Donald Trump, dan Kongres harus menggunakan semua kekuatan yang tersedia untuk mencegahnya lebih jauh melibatkan kita dalam konflik ini,” tegasnya.
Sebelumnya, AS bersama Israel melancarkan operasi besar-besaran pada Sabtu (28/2), menargetkan fasilitas komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), peluncur rudal balistik, drone, lapangan terbang militer, serta sistem pertahanan udara Iran.
Bulan Sabit Merah Iran melaporkan lebih dari 200 orang tewas dan hampir 750 lainnya terluka akibat serangan yang menghantam 24 dari 31 provinsi. Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan sedang menyelidiki laporan bahwa sebuah sekolah perempuan di Iran selatan ikut terkena serangan, menewaskan lebih dari 100 siswi.
Angkatan Udara Israel mengklaim melancarkan penerbangan militer terbesar dalam sejarah IDF dengan lebih dari 200 jet, menghantam lebih dari 500 target termasuk peluncur rudal dan sistem pertahanan udara Iran. Serangan tersebut juga menewaskan sejumlah petinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.