JAKARTA – Kanada secara resmi mengakui berdirinya Negara Palestina, menjadikannya negara pertama dari kelompok G7 yang mengambil langkah bersejarah tersebut. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Perdana Menteri, Mark Carney pada Minggu (21/9/2025) waktu setempat, dalam sebuah langkah yang disebut sebagai bagian dari komitmen Kanada untuk mendorong perdamaian stabilitas di kawasan Timur Tengah.
“Kanada mengakui Negara Palestina dan menawarkan kemitraan dalam membangun janji masa depan yang damai, baik bagi Palestina maupun Israel,” ujar Carney, seperti dikutip dari BBC.
Langkah ini menandai pergeseran besar dalam kebijakan luar negeri Kanada, sekaligus memperkuat tekanan internasional terhadap Israel untuk menghentikan serangan di Gaza, di tengah sorotan global atas krisis kemanusiaan dan pembangunan permukiman ilegal di Tepi Barat.
Tak lama setelah pengumuman tersebut, Inggris dan Australia juga menyampaikan pengakuan serupa, sebagaimana telah mereka isyaratkan sebelumnya. Gelombang pengakuan ini terjadi menjelang Sidang Majelis Umum PBB di New York, yang diperkirakan akan menjadikan isu Palestina sebagai agenda utama.
Penolakan Israel dan Penegasan Kanada
Pemerintah Israel dengan tegas menolak langkah Kanada dan negara-negara Barat lainnya, menyebut pengakuan terhadap Palestina sebagai “hadiah bagi Hamas”. Namun, PM Carney langsung membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa pengakuan Kanada tidak dimaksudkan sebagai legitimasi terhadap kelompok bersenjata tersebut.
“Pengakuan ini hanya diberikan kepada otoritas Palestina yang berkomitmen pada reformasi demokratis, termasuk penyelenggaraan pemilu tahun depan tanpa campur tangan Hamas,” tegas Carney.
Ia juga menambahkan bahwa Hamas harus membebaskan seluruh sandera, melucuti senjata, dan tidak memiliki peran dalam pemerintahan Palestina di masa depan sebagai syarat penting menuju perdamaian yang berkelanjutan.
Dukungan untuk Solusi Dua Negara
Meskipun mengakui Palestina, Carney menegaskan bahwa dukungan Ottawa terhadap keamanan Israel tetap tidak berubah. Ia menegaskan bahwa Kanada sejak 1947 secara konsisten menyuarakan solusi dua negara sebagai jalan terbaik bagi perdamaian di Timur Tengah.
“Pengakuan ini sama sekali tidak mengurangi komitmen kami pada keamanan Israel dan rakyatnya. Justru, keamanan itu hanya dapat tercapai melalui solusi dua negara yang komprehensif,” katanya.
Langkah Kanada ini mendapat perhatian luas di tingkat global dan diperkirakan akan memicu perdebatan diplomatik sengit dalam forum-forum internasional ke depan, termasuk dalam Sidang Majelis Umum PBB yang segera digelar.