JAKARTA – Kanselir Jerman, Friedrich Merz menyebut pemerintahan Iran tengah memasuki fase akhir kekuasaannya. Dalam kunjungan resmi ke India, Selasa (13/1/2026), Merz menilai rezim di Teheran hanya mampu bertahan dengan kekerasan terhadap demonstran, sehingga legitimasi pemerintahannya semakin hilang.
“Ketika sebuah rezim hanya bisa mempertahankan kekuasaan dengan kekerasan, maka pada dasarnya rezim itu sudah berakhir. Saya berasumsi kita sekarang menyaksikan hari-hari dan pekan-pekan terakhir dari rezim ini,” ujar Merz, dikutip dari Anadolu. Ia berharap transisi kekuasaan dapat berlangsung damai dan menegaskan Jerman terus berkoordinasi dengan Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis terkait perkembangan di Iran.
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menambahkan, Berlin akan mendorong penerapan sanksi lebih keras terhadap pemerintah Iran. Dalam kunjungannya ke Washington DC, Senin (12/1), Wadephul menyatakan Jerman akan menggunakan seluruh instrumen yang tersedia, termasuk opsi memasukkan Iran ke dalam rezim sanksi terorisme Uni Eropa.
Iran sendiri dilanda gelombang protes sejak bulan lalu, dipicu krisis ekonomi dan anjloknya nilai mata uang rial ke level terendah. Otoritas Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik dukungan terhadap apa yang mereka sebut sebagai “perusuh bersenjata.”
Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA), sedikitnya 646 orang tewas, lebih dari 1.000 luka-luka, dan 10.721 orang ditahan dalam aksi protes yang terjadi di 585 lokasi di 187 kota di seluruh Iran.
