JAKARTA — Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, memberikan penjelasan resmi mengenai keputusan Teheran menutup Selat Hormuz. Menurut dia, tindakan itu bukan tanpa alasan, Washington dinilai telah lebih dulu mengambil langkah provokatif dengan mengirimkan armada militernya ke kawasan tersebut.
Boroujerdi mengatakan, ketegangan serupa sebetulnya bukan hal baru. Insiden itu mengingatkannya pada perang 12 hari yang sebelumnya juga melibatkan Israel dan Amerika Serikat, di mana eskalasi konflik kala itu turut menyeret kawasan Selat Hormuz , jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman.
“Kali ini kapal-kapal induk Amerika datang ke wilayah Selat Hormuz dan menyerang integritas Iran, kesatuan Iran, dan wilayah Republik Islam Iran,” kata Boroujerdi saat ditemui di kediaman resmi Duta Besar Iran, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026), dilansir dari Okezone.
Ia pun mempertanyakan standar ganda yang diterapkan Washington dan Tel Aviv soal keamanan kawasan. Bagi Iran, keamanan di Selat Hormuz hanya bermakna apabila dirasakan secara merata oleh semua pihak yang berada di sana, bukan hak eksklusif satu negara.
“Apabila mereka mengharapkan keamanan bagi Selat Hormuz dan wilayah di sana, tentu keamanan dan kenyamanan ini harus berlaku untuk setiap negara yang berada di sana. Jika mereka ingin aman, kami pun sama,” tegasnya.
Boroujerdi juga menepis anggapan bahwa Iran berperan sebagai pihak yang memperkeruh keadaan. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa negaranya telah menjadi penjaga kawasan itu jauh sebelum negara-negara lain terlibat di sana.
“Tentu Iran merupakan pihak yang sejak ratusan tahun lalu menjadi pengawas utama di Selat Hormuz dan tidak ingin agar ketidakamanan terjadi di sana,” tandasnya.