JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman utama di berbagai daerah memasuki puncak musim kemarau. Dalam laporan terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebagian besar kejadian bencana yang tercatat dalam 24 jam terakhir didominasi kebakaran lahan, disertai satu insiden kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang berdampak pada ribuan warga.
Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa risiko bencana hidrometeorologi kering semakin meningkat di sejumlah wilayah Indonesia. Karena itu, BNPB meminta pemerintah daerah dan masyarakat memperkuat langkah antisipasi guna mencegah meluasnya kebakaran sekaligus meminimalkan dampak terhadap kesehatan dan lingkungan.
Berdasarkan laporan perkembangan situasi bencana periode Minggu (2/8) pukul 07.00 WIB hingga Senin (3/8) pukul 07.00 WIB, kebakaran lahan terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sementara Jawa Tengah menghadapi kebakaran besar di area pembuangan sampah yang memicu sebaran asap ke permukiman penduduk.
Di Kabupaten Belitung Timur, kebakaran lahan terjadi di Desa Air Kelik, Kecamatan Damar, pada Minggu siang sekitar pukul 12.20 WIB. Api menghanguskan lahan seluas kurang lebih tiga hektare.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, penyebab kebakaran hingga kini masih dalam penyelidikan aparat berwenang.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD Belitung Timur bergerak menuju lokasi dengan mengerahkan empat personel lengkap dengan empat unit mesin pompa gendong beserta perlengkapan pemadaman.
Penanganan dilakukan secara terpadu bersama petugas pemadam kebakaran PT Steelindo Wahana Perkasa, Damkar Belitung Timur, serta masyarakat sekitar. Berkat upaya tersebut, kobaran api berhasil dikendalikan pada hari yang sama sebelum meluas ke area lain.
Setelah proses pemadaman selesai, tim gabungan melanjutkan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara api yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
Karhutla juga dilaporkan terjadi di Kelurahan Sungai Daeng, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, pada hari yang sama.
Insiden tersebut membakar lahan seluas sekitar lima hektare.
Begitu menerima laporan dari masyarakat, personel BPBD Bangka Barat bersama petugas pemadam kebakaran dan warga langsung melakukan pemadaman. Respons cepat itu membuat api berhasil dipadamkan sepenuhnya pada hari yang sama sehingga tidak sempat menjalar ke kawasan yang lebih luas.
Selain kebakaran lahan, peristiwa lain yang mendapat perhatian adalah kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Troketon, Desa Troketon, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Kebakaran yang mulai terjadi pada Sabtu (1/8) sekitar pukul 13.00 WIB itu membakar area sekitar 1.000 meter persegi.
Api melahap timbunan sampah setinggi kurang lebih 10 meter yang tersusun dengan sistem terasering. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman berlangsung cukup sulit dan menghasilkan kepulan asap tebal yang menyebar hingga kawasan permukiman.
Dampaknya, sekitar 473 kepala keluarga atau 1.485 jiwa di Desa Kaligawe dan Desa Kalangan terdampak paparan asap.
BPBD Kabupaten Klaten bersama berbagai unsur gabungan segera melakukan penanganan di lapangan. Operasi pemadaman melibatkan Damkar Klaten, Damkar Sukoharjo, TNI, Polri, Dinas Lingkungan Hidup, Palang Merah Indonesia (PMI), hingga organisasi relawan.
Selain memadamkan api, petugas juga melakukan kaji cepat untuk memetakan dampak kebakaran terhadap masyarakat sekitar.
Upaya tersebut membuahkan hasil setelah api berhasil dipadamkan sepenuhnya pada Minggu (2/8). Meski demikian, penanganan pascakebakaran masih terus dilakukan, terutama untuk mengurangi dampak asap terhadap kesehatan warga.
Di lapangan, kebutuhan mendesak yang diperlukan meliputi distribusi masker bagi masyarakat terdampak serta dukungan logistik untuk personel yang terlibat dalam proses pemadaman.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan yang berlaku hingga 31 Desember 2026. Penetapan status tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
BNPB menilai meningkatnya frekuensi kebakaran selama musim kemarau harus menjadi perhatian seluruh pihak. Selain memperkuat kesiapan personel dan sarana pemadaman, pencegahan dinilai menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi risiko bencana.
Dalam keterangannya, BNPB mengingatkan masyarakat agar lebih bijak menggunakan air bersih dan mengoptimalkan pemanfaatan embung maupun tempat penampungan air sebagai cadangan selama musim kemarau.
“Menghadapi puncak musim kemarau yang memicu timbulnya bencana kekeringan dan karhutla di sejumlah wilayah Indonesia, BNPB mengimbau seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan,” demikian imbauan BNPB.
Lembaga tersebut juga menegaskan masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar maupun membakar sampah sembarangan, terutama ketika cuaca panas disertai angin kencang.
“Dilarang keras membuka lahan dengan cara dibakar, membuang puntung rokok sembarangan, atau membakar sampah di area terbuka tanpa pengawasan, terutama saat cuaca terik dan angin kencang,” tegas BNPB.
Di sisi lain, masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi terdampak asap kebakaran diminta menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah guna mengurangi risiko gangguan saluran pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
BNPB juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun indikasi krisis air bersih kepada BPBD atau aparat pemerintah setempat agar penanganan dapat dilakukan sejak dini sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih besar.



