JAKARTA – Keiko Fujimori, kandidat konservatif, berhasil memenangkan putaran kedua pemilihan presiden Peru pada 7 Juni dengan selisih kurang dari 50.000 suara atas rivalnya dari kubu kiri, Robert Sanchez.
Hasil akhir tersebut mendandai keberhasilan Fujimori dalam upaya keempatnya meraih kursi kepresidenan. Dewan Pemilu Nasional dijadwalkan mengumumkan hasi remi pada 3 Juli setelah meninjau surat suara yang dipersengketakan.
“Setiap kali kita semakin dekat untuk memulai jalan menuju ketertiban dan harapan bagi seluruh rakyat Peru,” tulis Fujimori di X, dilansir The Guardian, Selasa (30/6/2026), setelah dinyatakan sebagai pemenang. Ia akan mulai menjabat pada 28 Juli untuk masa jabatan lima tahun.
Pemilu berlangsung di tengah meningkatnya kejahatan dan ketidakstabilan politik kronis, dengan Peru berganti delapan presiden dalam satu dekade terakhir. Fujimori berjanji akan bertindak tegas menghadapi geng kriminal, meniru gaya kepemimpinan ayahnya, Alberto Fujimori, yang pernah dipuji karena menumpas pemberontak Maois dan mengendalikan hiperinflasi, tapi kemudian dipenjara atas kasus korupsi dan pelanggaran HAM.
Sanchez belum memberikan tanggapan atas hasil tersebut. Ia sebelumnya memperingatkan tidak akan mengakui pemerintahan Fujimori, menuding adanya penyimpangan administratif dalam pemungutan suara luar negeri.
Keiko Fujimori, yang pernah menjadi ibu negara pada usia 19 tahun setelah ibunya memutuskan hubungan dengan sang ayah, kini membawa nama besar keluarganya kembali ke puncak politik Peru. Namun, warisan Fujimori tetap menjadi pedang bermata dua: memberi basis pemilih loyal sekaligus memunculkan penolakan keras dari jutaan warga yang masih menyimpan kenangan kelam masa lalu.