JAKARTA – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) terbukti menjadi mesin pertumbuhan daerah yang sangat efektif. Realisasi investasi di 25 KEK sepanjang 2025 mencapai Rp82,6 triliun atau 98 persen dari target. Penyerapan tenaga kerja juga melampaui sasaran dengan 88.541 orang. Selain itu, wilayah yang memiliki KEK mampu menarik investasi 77 persen lebih tinggi, menyerap tenaga kerja 52 persen lebih besar, serta mencatat Foreign Direct Investment (FDI) industri hingga 179 persen lebih tinggi dibandingkan wilayah non-KEK.
Forum ini menjadi ajang pemerintah menyampaikan capaian nyata KEK sekaligus memperkuat kerja sama dengan media dalam menyosialisasikan peran strategis kawasan tersebut untuk mendorong investasi, ekspor, penciptaan lapangan kerja, serta mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada 2029.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Susiwijono Moegiarso, dalam keynote speech menekankan ketahanan ekonomi makro Indonesia di tengah dinamika global.
“Secara umum, angka indikator makro Indonesia masih cukup bagus. Mulai dari data yang disampaikan BPS hingga inflasi yang memang secara siklus mengalami kenaikan. Kemudian PMI kemarin naik cukup tinggi sekali, di atas 53, saya kira ini tertinggi sejak beberapa bulan yang lalu. Lalu indikator retail, indeks keyakinan konsumen, dan beberapa indikator daya beli juga masih cukup baik, dan beberapa mengalami kenaikan. Kalau disimpulkan sebenarnya kondisi makro kita sampai hari ini masih sangat solid, sangat kuat, sehingga kita tinggal mengantisipasi seberapa jauh dampak dari perkembangan di global,” ujar Susiwijono.
Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, memaparkan peran krusial KEK dalam menggerakkan perekonomian daerah. Ia membandingkan indikator ekonomi antara wilayah ber-KEK dan non-KEK yang menunjukkan dampak positif signifikan.
Sepanjang 2025, realisasi investasi di 25 KEK mencapai Rp82,6 triliun atau setara 98 persen dari target yang ditetapkan. Penyerapan tenaga kerja bahkan melampaui target dengan mencapai 88.541 orang.
“Capaian ini menunjukkan bahwa KEK terus berkembang sebagai salah satu instrumen penting dalam mendorong investasi dan penciptaan lapangan kerja di berbagai daerah,” kata Rizal Edwin.
Studi bersama Prospera dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia mengungkapkan bahwa wilayah KEK mampu menarik investasi hingga 77 persen lebih tinggi dibandingkan wilayah non-KEK, menyerap tenaga kerja 52 persen lebih besar, serta mencatat FDI di KEK industri hingga 179 persen lebih tinggi.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menegaskan kontribusi KEK terhadap perekonomian daerah melalui peningkatan investasi, ekspor, serta penciptaan lapangan kerja. Ia juga menyoroti target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada 2029 dengan KEK sebagai salah satu penggerak utama. BPS turut berfokus meningkatkan akurasi data di KEK guna menghasilkan perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) yang lebih presisi.
“Kami terus berupaya meningkatkan kualitas pendataan di KEK, karena pada dasarnya hal tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas penghitungan PDB,” ujar Edy.
Acara tersebut juga menghadirkan perwakilan Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) dari sejumlah KEK unggulan yang berbagi pengalaman implementasi di lapangan serta dampaknya terhadap ekonomi lokal.
KEK Kendal melalui Executive Director Kendal Industrial Park, Juliani Kusumaningrum, menyampaikan bahwa akumulasi investasi hingga 2025 mencapai sekitar Rp187,05 triliun dengan penyerapan 76.559 tenaga kerja. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Kendal juga tumbuh signifikan hingga 8,84 persen pada 2025. Program link and match dengan pendidikan dan pelatihan terus diperkuat untuk menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja industri.
KEK Sanur yang diwakili Vice President Corporate Planning and Strategic Delivery Unit, Ade Saputra, menyoroti pengembangan sektor kesehatan dan pariwisata untuk meningkatkan daya saing layanan medis nasional. Kawasan ini mengusung konsep Top Notch Brands, Best Technology and Medicines, Medical and Wellness Expertise, serta Seamless Experience. Fasilitas utamanya mencakup Bali International Hospital dengan layanan spesialis kardiologi, onkologi, neurologi, ortopedi, kesehatan ibu dan anak, serta pusat fertilitas Alpha IVF. Program CSR dan komunikasi publik juga aktif dilakukan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar.
KEK Industropolis Batang yang diwakili Direktur Pemasaran dan Pengembangan, Indri Septa Respati, merupakan kawasan termuda yang diresmikan pada 20 Maret 2025. Kawasan ini mengusung empat pilar pengembangan, yakni ketenagakerjaan, ekonomi dan UMKM, lingkungan, serta sosial. Program pelatihan vokasi seperti menjahit, desain-printing, dan bahasa Inggris telah diikuti lebih dari 1.800 orang sepanjang 2022 hingga 2025. Kerja sama dengan 29 SMK juga dilakukan untuk mendorong transformasi pendidikan vokasi dan mendukung penyerapan tenaga kerja lokal.
KEK Nongsa melalui Direktur Utama PT Taman Resor Internet, Mike Wiluan, menekankan pengembangan talenta digital melalui program Infinite Learning yang bekerja sama dengan mitra global seperti Apple Developer Academy, RMIT University, Red Hat, dan IBM. Hingga kuartal IV 2025, program tersebut telah diikuti lebih dari 8.000 peserta. Infinite Studios juga berkolaborasi dengan 22 UMKM kreatif dalam produksi animasi dan film internasional dengan lebih dari 20 judul, termasuk 10 animasi baru yang melibatkan 160 tenaga kerja. Ekspansi lahan tambahan seluas 21,59 hektare membuat total kawasan mencapai 188,04 hektare.
Sementara itu, KEK Gresik yang diwakili External Relation dan Special Economic Zone Director, Roro Ayu Yayuk Dwi Hastuti, menyoroti kontribusi kawasan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan dengan lima pilar utama, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, serta infrastruktur sosial. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Gresik meningkat dari 77,30 pada 2021 menjadi 79,69 pada 2025. Tingkat pengangguran juga turun dari 8,00 persen menjadi 5,47 persen dalam lima tahun terakhir, menegaskan peran KEK sebagai pusat investasi hilirisasi dan rantai pasok nasional.
Melalui forum ini, Sekretariat Jenderal Dewan Nasional KEK berharap dapat mempererat kemitraan dengan media untuk menyajikan informasi yang akurat dan berbasis data. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperluas pemahaman publik mengenai peran KEK dalam mendorong transformasi ekonomi nasional dan daerah yang inklusif serta berkelanjutan.