JAKARTA – Keluhan masyarakat tentang sulitnya mendapatkan ojek online (ojol) dalam beberapa waktu terakhir semakin sering muncul di media sosial. Di sisi lain, para pengemudi juga mengungkapkan kekhawatiran mengenai pendapatan yang dinilai semakin menurun dibandingkan beberapa tahun lalu. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan dinamika dalam industri transportasi berbasis aplikasi di Indonesia, yang melibatkan berbagai faktor mulai dari kebijakan perusahaan hingga kondisi ekonomi.
Industri ojek online sendiri berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Platform transportasi digital memungkinkan masyarakat memesan layanan transportasi dengan cepat melalui aplikasi, sekaligus membuka peluang kerja bagi jutaan orang. Namun, seiring berkembangnya ekosistem tersebut, muncul berbagai tantangan yang memengaruhi kesejahteraan para mitra pengemudi.
Salah satu isu yang paling sering disoroti adalah potongan komisi yang diambil oleh perusahaan aplikasi dari setiap perjalanan. Saat ini, potongan komisi yang dikenakan kepada pengemudi umumnya berada di kisaran 20 persen dari tarif perjalanan. Skema ini dianggap menjadi salah satu faktor yang membuat pendapatan bersih pengemudi menjadi lebih kecil setelah dikurangi biaya operasional.
Bagi sebagian pengemudi, potongan komisi tersebut dinilai cukup memberatkan, terutama ketika jumlah pesanan tidak stabil. Selain itu, mereka juga harus menanggung berbagai biaya lain seperti bahan bakar, perawatan kendaraan, serta kebutuhan sehari-hari yang terus meningkat. Kondisi ini menyebabkan sebagian pengemudi merasa bahwa pendapatan yang diterima tidak lagi sebanding dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan.
Masalah lain yang turut memengaruhi pendapatan pengemudi adalah semakin banyaknya jumlah driver yang bergabung dalam platform transportasi online. Dengan bertambahnya mitra pengemudi, pesanan yang tersedia harus dibagi kepada lebih banyak orang. Hal ini membuat sebagian pengemudi harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan order dibandingkan sebelumnya.
Situasi tersebut juga berdampak pada pengalaman pelanggan. Ketika jumlah pengemudi aktif di suatu area tidak seimbang dengan permintaan penumpang, proses pencarian driver dapat menjadi lebih lama. Inilah yang kemudian memunculkan keluhan dari masyarakat tentang sulitnya mendapatkan layanan ojol pada waktu-waktu tertentu.
Beberapa pengemudi bahkan menyuarakan aspirasi mereka melalui aksi demonstrasi dan protes untuk menuntut perbaikan sistem pendapatan. Pada Mei 2025, ratusan pengemudi ojek online di berbagai kota melakukan aksi untuk meminta peningkatan kesejahteraan serta menyoroti besarnya potongan komisi dari perusahaan aplikasi. Banyak pengemudi mengaku hanya memperoleh sekitar Rp100.000 hingga Rp150.000 per hari meski bekerja selama 10 hingga 12 jam.
Selain komisi, sistem promo dan diskon yang sering diberikan kepada pelanggan juga dinilai memengaruhi pendapatan pengemudi. Program promosi memang dapat meningkatkan jumlah transaksi, tetapi pada saat yang sama tarif perjalanan yang lebih murah membuat penghasilan per perjalanan menjadi lebih kecil.
Di tengah berbagai keluhan tersebut, pemerintah juga mulai membahas sejumlah regulasi untuk memperbaiki kondisi ekosistem transportasi daring. Salah satu wacana yang muncul adalah pembatasan komisi platform agar tidak melebihi batas tertentu, bahkan ada usulan untuk menurunkannya dari 20 persen menjadi 10 persen. Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan pengemudi sekaligus menciptakan sistem yang lebih adil bagi semua pihak.
Meski demikian, sejumlah pihak menilai bahwa perubahan kebijakan perlu dilakukan secara hati-hati. Industri ride-hailing merupakan bagian dari ekonomi digital yang melibatkan jutaan pengemudi dan pengguna setiap hari. Jika regulasi tidak dirancang dengan tepat, dampaknya bisa memengaruhi keberlanjutan bisnis perusahaan maupun ketersediaan layanan bagi masyarakat.
Ke depan, keseimbangan antara kepentingan perusahaan aplikasi, pengemudi, dan konsumen menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan layanan ojek online. Transparansi dalam sistem komisi, perlindungan sosial bagi pengemudi, serta kebijakan tarif yang adil dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi ketegangan yang selama ini muncul di industri tersebut.
Dengan berbagai tantangan yang ada, isu “susah dapat ojol” bukan sekadar persoalan layanan transportasi semata. Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam ekosistem ekonomi digital dan hubungan kerja di era gig economy, yang masih terus mencari bentuk terbaik bagi semua pihak yang terlibat.