JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan musim kemarau 2026 di Indonesia akan tiba lebih cepat dibandingkan pola klimatologi normal, sehingga sejumlah wilayah diperkirakan mulai mengalami kondisi kering lebih awal tahun ini.
Prediksi tersebut berkaitan dengan perubahan dinamika iklim global setelah fenomena La Niña lemah yang memengaruhi pola hujan Indonesia berakhir pada Februari 2026.
Saat ini kondisi iklim global telah beralih ke fase netral dan berpotensi berkembang menuju fenomena El Niño pada pertengahan tahun, yang dapat memperkuat karakter musim kemarau.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa pemantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik menunjukkan indeks ENSO berada di angka -0,28 yang menandakan kondisi netral.
“Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun,” kata Faisal dalam Konferensi Pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 di Gedung Multi-Hazard Early Warning System, Jakarta, Rabu (4/3).
BMKG juga mencatat perubahan pola angin muson sebagai indikator utama dimulainya musim kemarau, yaitu peralihan dari angin baratan yang dipengaruhi Monsun Asia menuju angin timuran dari Monsun Australia.
Transisi atmosfer tersebut diperkirakan mulai terasa pada April 2026 di sejumlah wilayah Indonesia.
Pada periode tersebut sebanyak 114 Zona Musim atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia diperkirakan sudah memasuki fase kemarau.
Wilayah yang terdampak lebih awal meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, serta sebagian kecil wilayah Kalimantan dan Sulawesi.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan bahwa gelombang berikutnya akan terjadi pada Mei 2026 dengan tambahan 184 Zona Musim atau sekitar 26,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki kemarau.
Sementara itu pada Juni 2026 sekitar 163 Zona Musim atau 23,3 persen wilayah lainnya diperkirakan menyusul mengalami kondisi kering.
Data tersebut menunjukkan bahwa hampir setengah wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari rata-rata klimatologinya.
“Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua,” ujarnya.
Secara keseluruhan sebanyak 325 Zona Musim atau sekitar 46,5 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami kemarau lebih cepat dari biasanya.
Sebanyak 173 Zona Musim atau 24,7 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau dengan waktu yang relatif sama seperti pola normal.
Sementara itu sekitar 72 Zona Musim atau 10,3 persen wilayah lainnya diperkirakan mengalami kemarau yang datang lebih lambat.
Rincian wilayah Indonesia yang diprediksi mengalami musim kemarau 2026 lebih awal:
1. Sumatra
Sebagian besar wilayah Sumatra diprediksi memasuki musim kemarau lebih cepat dari rata-rata klimatologinya dengan puncak kemarau berpotensi terjadi antara Juli hingga Agustus terutama di Sumatra bagian tengah dan selatan seperti Riau, Jambi, Sumatra Selatan, dan Lampung.
2. Jawa
Pulau Jawa menjadi salah satu wilayah yang paling cepat merasakan awal kemarau pada 2026 dengan daerah pesisir utara Jawa Barat hingga Jawa Timur diperkirakan mulai mengalami musim kering sejak April hingga Mei dan mencapai puncak kekeringan pada Agustus.
3. Bali
Wilayah Bali diperkirakan mulai memasuki musim kemarau sejak Mei dengan intensitas kekeringan meningkat pada pertengahan tahun dan mencapai puncak pada Agustus bersamaan dengan sebagian besar wilayah Indonesia lainnya.
4. Nusa Tenggara Barat (NTB)
Provinsi NTB diprediksi memasuki musim kemarau lebih awal dibandingkan normalnya dengan awal kemarau sekitar April hingga Mei dan puncak kondisi kering diperkirakan terjadi pada Agustus.
5. Nusa Tenggara Timur (NTT)
Wilayah NTT diperkirakan mengalami musim kemarau yang cukup panjang dengan awal kemarau datang lebih cepat dan puncak kekeringan terjadi antara Agustus hingga September di sebagian besar wilayah.
6. Kalimantan
Sebagian wilayah Kalimantan terutama bagian selatan dan timur diprediksi mengalami awal kemarau lebih cepat dari biasanya dengan puncak musim kering berlangsung pada Juli hingga Agustus.
7. Sulawesi
Sebagian besar wilayah Sulawesi diperkirakan mengalami kemarau lebih awal dengan puncak kekeringan yang dominan terjadi pada Agustus meskipun beberapa wilayah utara dan timur diprediksi mencapai puncaknya pada September.
8. Maluku
Wilayah Maluku diperkirakan memasuki musim kemarau secara bertahap dengan puncak kemarau yang terjadi antara Agustus hingga September terutama di wilayah Maluku dan Maluku Utara.
9. Papua
Sebagian wilayah Papua diprediksi mengalami musim kemarau lebih cepat dari biasanya dengan puncak kondisi kering terjadi pada Agustus hingga September terutama di wilayah barat dan beberapa wilayah selatan.***