ACEH – Di tengah proses pemulihan pascabanjir bandang yang melanda wilayah Aceh Tamiang pada akhir November 2025, aktivitas belajar mengajar kembali dimulai pada Senin, 5 Januari 2026. Kembalinya para siswa ke sekolah menjadi sumber harapan baru sekaligus sarana pemulihan psikologis bagi mereka yang terdampak bencana.
Bagi sebagian besar siswa, bertemu kembali dengan teman dan guru di lingkungan sekolah menjadi cara efektif untuk mengobati trauma akibat banjir bandang.
Salah satunya dirasakan Denico Felix Batubara (17), siswa kelas XI SMAN 4 Kejuruan Muda. Ia mengaku merasakan kelegaan saat kembali masuk sekolah pada awal semester genap tahun ajaran 2025/2026.
“Pertama kali masuk ke sekolah, bertemu teman-teman, rasa bahagia itu mulai muncul lagi,” kata Denico.
Interaksi sederhana di sekolah, seperti berkumpul dan berbagi cerita, menjadi momen yang paling dirindukan Denico setelah sebulan terpisah akibat bencana.
“Momen paling saya kangen pada saat duduk-duduk saling bercerita. Cita-cita yang ingin kami raih atau lelucon-lelucon yang kami bicarakan,” ujarnya.
Denico yang dipercaya menjadi pemimpin upacara saat sekolah kembali dibuka mengungkapkan, meski fasilitas masih terbatas pascabencana, semangat belajar para siswa tetap tinggi. Ia bahkan harus datang ke sekolah dengan seragam dan sepatu pinjaman karena seluruh perlengkapannya hanyut terbawa banjir.
“Bahkan saya ke sekolah sekarang ini pakai baju pinjam. Sepatu juga. Semua perlengkapan sudah tidak ada lagi,” katanya.
Aktivitas pembelajaran berkelompok di kelas juga menjadi hal yang sangat dirindukan karena mampu merangsang daya pikir siswa.
“Kangen kerja kelompok karena memicu daya berpikir kritis,” ujarnya.
Pengalaman serupa dirasakan Nabila Safitri Rahayu (17), siswi kelas XII di sekolah yang sama. Libur mendadak akibat bencana meninggalkan perasaan kehilangan, namun kembalinya ke sekolah justru menghadirkan keharuan sekaligus kebahagiaan.
“Sebulan tanpa aba-aba. Libur begitu saja karena ada bencana. Belum ada salam perpisahan, ada rasa mengganjal,” kata Nabila.
Saat akhirnya bertemu kembali setelah lebih dari sebulan, para siswa saling berbagi kisah duka yang dialami. Namun, kebersamaan itu justru mempererat ikatan emosional di antara mereka.
“Kami sudah menerima itu, jadi kami ceritanya sambil ketawa-ketawa,” katanya.
Pemulihan psikologis melalui pendidikan ini sejalan dengan arahan pemerintah yang menekankan pentingnya peran sekolah sebagai bagian dari proses bangkit pascabencana banjir di Aceh Tamiang.
