JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pembangunan 1.301 unit rumah hunian modular bagi korban bencana alam di wilayah Sumatera. Target utamanya adalah memastikan hunian tersebut dapat segera ditempati menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026, sehingga masyarakat terdampak dapat meninggalkan pengungsian sementara dan kembali menjalani kehidupan normal dengan rasa aman.
Menteri PU Dody Hanggodo menekankan bahwa program ini selaras dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto. Pemulihan pascabencana tidak hanya menyasar infrastruktur fisik, tetapi juga pemulihan kesejahteraan dan stabilitas sosial warga.
“Hunian ini bukan sekadar bangunan, tetapi bagian dari pemulihan kehidupan masyarakat. Arahan Bapak Presiden jelas, kita harus memastikan masyarakat kembali merasa aman dan nyaman,” kata Menteri Dody.
Berdasarkan data hingga 9 Februari 2026 pukul 15.00 WIB, progres konstruksi secara keseluruhan telah mencapai rata-rata 47 persen. Tim pelaksana terus menggenjot pekerjaan agar seluruh unit rampung paling lambat akhir Februari 2026.
Proyek ini dikelola Direktorat Jenderal Prasarana Strategis Kementerian PU. Sebanyak 1.056 unit terkonsentrasi di Provinsi Aceh, sementara 245 unit berada di Provinsi Sumatera Utara.
Di Aceh, capaian bervariasi antar kabupaten/kota:
- Kabupaten Aceh Tamiang Tahap I (84 unit): 100 persen selesai
- Kabupaten Aceh Tamiang Tahap II (156 unit): 83,72 persen
- Kabupaten Bener Meriah (228 unit): 55,7 persen
- Kabupaten Aceh Utara (360 unit): 48,1 persen
- Kabupaten Pidie Jaya (168 unit): 19,15 persen
- Kota Subulussalam (60 unit): 4,91 persen
Sementara di Sumatera Utara, seluruh 245 unit difokuskan di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, yang terbagi dalam 21 blok. Progres terkini mencapai 28,6 persen, dengan upaya percepatan intensif.
Untuk mengatasi tantangan cuaca yang tidak menentu di lapangan, tim konstruksi menerapkan strategi fleksibel. Pekerjaan struktur dan eksterior dikebut hingga malam hari saat kondisi memungkinkan, sedangkan aktivitas interior tetap berlangsung meski hujan turun. Pendekatan ini menjaga ritme produktivitas tanpa mengorbankan kualitas.
Kunci percepatan terletak pada penerapan teknologi Modular Lite (MOLI). Sistem ini memungkinkan pembangunan tanpa alat berat, sehingga sangat cocok untuk daerah terpencil atau wilayah dengan akses terbatas pascabencana. Proses pemasangan menjadi lebih cepat, limbah konstruksi minim, serta efisien dari sisi waktu dan biaya.
Rumah modular dirancang tahan gempa dengan struktur yang kuat, sekaligus mudah dipasang maupun dibongkar tanpa menimbulkan sampah bangunan. Pendekatan ramah lingkungan ini diharapkan memperlancar penyerahan hunian kepada warga, sehingga korban bencana dapat segera merasakan manfaat nyata dari upaya pemulihan pemerintah.
Dengan target ketat tersebut, Kementerian PU optimistis seluruh hunian siap huni sebelum Lebaran, memberikan harapan baru bagi ribuan keluarga terdampak di Sumatera.