JAKARTA – Max Verstappen tak ingin terjebak dalam euforia usai dua kemenangan beruntun di Monza dan Baku yang menghidupkan kembali harapan mempertahankan gelar juara dunia Formula 1 pada musim 2025. Meskipun kebangkitan performa Red Bull Racing mulia terlihat, sang juara bertahan menegaskan belum saatnya berbicara soal peluang gelar kelima.
“Itu terlalu berlebihan. Pada dasarnya, semuanya harus berjalan sempurna dari sisi saya, dan kemudian sedikit keberuntungan dari sisi mereka,” kata Verstappen kepada Sky Sports F1, menanggapi prediksi bahwa dirinya kembali ke jalur perebutan gelar.
Dengan hanya tujuh balapan tersisa, Verstappen kini tertinggal 69 poin dari pemuncak klasemen Oscar Piastri (McLaren). Rekan setim Piastri, Lando Norris, berada di posisi kedua klasemen, di antara sang juara bertahan dan pemuncak klasemen.
Kebangkitan Red Bull dimulai lewat perubahan besar pada lantai mobil yang diterapkan di Monza, serta pendekatan baru dalam memahami karakteristik RB21. Helmut Marko, penasihat senior Red Bull, menyebut hasil ini bukan kebetulan semata.
“Monza bukanlah acara yang hanya sekali saja. Ini menunjukkan mobil telah membuat langkah besar ke depan,” ujar Marko kepada ORF.
Red Bull Waspadai Ujian Sebenarnya di Singapura
Namun, Red Bull belum ingin terlena. Tes sesungguhnya, menurut Marko, akan datang di GP Singapura, dua pekan mendatang. Trek jalan raya dengan suhu tinggi dan kebutuhan downforce besar secara historis tak bersahabat bagi Red Bull — terutama Verstappen, yang belum pernah menang di sana.
“Ini akan menjadi tolok ukur yang sebenarnya di mana kami berada,” tambah Marko. “Jika kami kompetitif di Singapura, maka mungkin kami bisa mulai bermimpi.”
Pada 2023, Verstappen bahkan gagal naik podium di Singapura — satu-satunya balapan tanpa podium dalam musim dominasinya kala itu. Karena itu, performa RB21 di Marina Bay akan menjadi indikator apakah kebangkitan Red Bull benar-benar konsisten atau sekadar cocok dengan karakter sirkuit sebelumnya.
McLaren Belum Coret Nama Verstappen dari Persaingan Gelar
Meskipun unggul dalam klasemen, kubu McLaren tetap mewaspadai Verstappen. Bos tim Andrea Stella bahkan mengakui timnya belum mencoret Verstappen dari persaingan juara, pernyataan yang juga diamini oleh Piastri dan Norris setelah GP Baku.
“Saya berharap akan seperti itu, tapi saya akan memikirkannya setelah Singapura,” ujar Marko soal komentar McLaren.
Peran Tsunoda dan Harapan Tim
Sementara itu, rekan setim Verstappen, Yuki Tsunoda, mulai menunjukkan peningkatan performa meski masih tertahan di posisi ke-17 klasemen. Dua finis poin dalam tiga balapan terakhir, termasuk posisi keenam di Baku, dinilai sebagai sinyal bahwa RB21 kini lebih mudah dikendarai.
“Saya mencoba mengeluarkan performa semaksimal mungkin dari mobil, dan pada saat yang sama, jika saya bisa mendukungnya (Verstappen), itu akan bagus,” ujar Tsunoda, yang masih berjuang mengamankan kursinya untuk musim 2026.
Red Bull memang telah lama bergantung pada Verstappen sejak kepergian Daniel Ricciardo pada 2018. Beberapa pembalap datang dan pergi, namun belum ada yang mampu menandingi performa sang juara dunia.
Kini, dengan mobil yang tampaknya kembali kompetitif, dan semangat dalam tim yang pulih, balapan di Singapura akan menjadi titik krusial: apakah Verstappen benar-benar kembali dalam pertarungan gelar, atau justru harapan itu kembali memudar.