JAKARTA – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., meninjau pembangunan hunian tetap (huntap) bagi korban bencana banjir dan tanah longsor di Desa Wanajaya, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (8/1).
Kunjungan ini dilakukan dalam fase transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan, sebagaimana ditetapkan dalam SK Bupati Sukabumi No. 300.2.1/kep.1009/BPBD/2024.
Prototipe huntap yang dinamai Riksa (Rumah Instan Kuat, Sehat, dan Aman) berdiri kokoh di lokasi tidak jauh dari jalan utama.
Rumah berukuran 6×6 meter ini dilengkapi dua kamar tidur, ruang tamu, dan kamar mandi, serta dirancang dengan struktur tahan gempa.
“Saat ini kita sudah memasuki tahap pemulihan menuju rehabilitasi dan rekonstruksi. Rumah contoh ini adalah langkah awal membangun kembali rumah yang rusak akibat bencana,” ujar Suharyanto.
Data sementara mencatat, sebanyak 2.106 rumah di Sukabumi terdampak bencana, terdiri atas 446 rumah rusak berat, 470 rusak sedang, dan 1.190 rusak ringan.
Proses verifikasi data masih berlangsung dan jumlah ini kemungkinan bertambah.
Dadang, salah satu warga Desa Wanajaya yang menerima huntap, menyampaikan rasa syukur.
“Saya sangat berterima kasih kepada pemerintah, rumah saya sudah dibangun kembali, alhamdulillah sekarang saya sudah bisa pulang ke rumah bersama istri dan anak saya,” ujar Dadang.
Pada kesempatan ini, Suharyanto juga membawa beberapa perwakilan dari 18 BPBD kab/kota di Indonesia untuk melihat progres pembangunan rumah contoh tersebut.
Hal ini bertujuan untuk memberikan pencerahan kepada pemerintah daerah lainnya untuk nantinya dapat diadopsi pada wilayah masing-masing yang sebelumnya terdampak bencana.
“Dengan 60jt sudah bisa dibangun rumah seperti ini, silahkan dilihat dan diperhatikan secara seksama, supaya tidak ada lagi yang bingung nanti untuk bangun rumah rusak, sehingga dengan waktu tidak terlalu lama warga yang terdampak sudah bisa kembali ke rumah dan menikmati haknya,” tambah Suharyanto.
Penanaman Pohon
Suharyanto juga melakukan penanaman pohon di pekarangan rumah contoh sebagai bentuk pemulihan pascabencana. Total ada 13 pohon yang terdiri dari pohon durian dan pohon mangga.
Pohon ini dipilih karena memiliki nilai ekologis dan ekonomis; akarnya dapat membantu mencegah longsor, sementara buahnya memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
“Diharapkan pendekatan ekologi dan ekonomi ini bisa diadopsi daerah lain dengan potensi risiko serupa,” ujar Suharyanto.
Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Huntap
Usai peninjauan, Suharyanto memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Pembangunan Huntap di Pendopo Palabuhanratu.
Ia menekankan pentingnya percepatan pendataan rumah rusak berdasarkan tingkat kerusakan dan domisili warga.
“Kecepatan pemerintah dalam menyelesaikan data dan membangun huntap seperti ini menunjukkan komitmen membantu masyarakat terdampak bencana,” tegasnya.
Rakor dihadiri Pj. Gubernur Jawa Barat Bey Mahmudin, Bupati Sukabumi Marwan Hamami, Deputi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB Jarwansyah, unsur TNI-Polri, BPBD Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta jajaran forkopimda.