“Teheran berbau kematian,” demikian unggahan terbaru jurnalis Iran Elaheh Mohammadi di platform X (sebelumnya Twitter) pada Selasa (waktu lokal), meski akses internet di negara itu masih diblokir sebagian oleh otoritas pemerintah.
Unggahan itu menjadi salah satu dari sedikit laporan langsung yang bocor dari dalam Iran di tengah gelombang protes besar-besaran yang mengguncang negeri tersebut sejak akhir Desember 2025.
Dalam beberapa hari terakhir, akses internet di Iran hampir sepenuhnya ditutup oleh pemerintah sebagai upaya mengekang penyebaran informasi terkait demonstrasi yang awalnya dipicu oleh krisis ekonomi dan penurunan tajam nilai mata uang rial.
Namun, Mohammadi mengatakan bahwa dalam dua hari terakhir warga berhasil terhubung kembali ke internet menggunakan VPN, sebuah alat yang memungkinkan mereka melewati sensor pemerintah.
“Sepanjang hidup saya, saya belum pernah melihat salju turun di Teheran tanpa ada seorang pun yang tersenyum,” tulis jurnalis berusia 38 tahun itu, menggambarkan suasana kelam ibu kota yang kini dipenuhi ketakutan dan kesedihan.
Protes yang dimulai di Teheran pada 28 Desember 2025 oleh para pemilik toko yang marah akibat melemahnya ekonomi dengan cepat berubah menjadi gerakan nasional menentang rezim. Bentrokan dengan Pasukan Keamanan Iran dilaporkan sering berujung pada penggunaan kekerasan yang mematikan, dengan ribuan orang dilaporkan tewas atau ditangkap.
Kelompok HAM internasional Human Rights Activists News Agency (HRANA) menyatakan telah memverifikasi setidaknya 3.919 kematian demonstran, jumlah yang diperkirakan jauh lebih tinggi karena banyak laporan masih belum dapat dikonfirmasi secara independen akibat pemblokiran internet.
Mohammadi sendiri dikenal secara internasional sejak 2022 sebagai salah satu jurnalis pertama yang melaporkan kematian Jina Mahsa Amini, perempuan Kurdi Iran yang tewas saat ditahan polisi moral — sebuah peristiwa yang kemudian memicu gelombang protes besar sebelumnya.
Selain menghadapi sensor ketat, banyak media independen Iran kini dipaksa menutup operasi mereka karena tekanan pemerintah. Mohammadi menulis bahwa sejak awal protes, ia dan rekan-rekannya berjuang “untuk menulis tentang mereka yang terbunuh dan terluka,” meski menghadapi risiko besar terhadap keselamatan diri.
Situasi ini terjadi di tengah klaim pemerintah Iran yang menganggap laporan kematian besar-besaran sebagai disinformasi dan menyalahkan kekuatan asing atas kerusuhan. Namun kenyataan di lapangan, menurut para pengamat, menunjukkan tekanan ekstrem terhadap kebebasan pers dan kebebasan berekspresi di negara itu — terutama terhadap jurnalis yang mencoba melaporkan situasi nyata di tengah konflik.