Warga Iran terus memberikan kesaksian mengenai penindasan brutal aparat keamanan setelah gelombang protes besar melanda berbagai wilayah di negara itu pekan lalu.
Seorang warga mengungkapkan bahwa aparat keamanan menembaki demonstran tak bersenjata dengan senapan serbu di kotanya.
“Kami melawan rezim yang brutal dengan tangan kosong,” ujarnya.
“Saya melihatnya dengan mata kepala sendiri—mereka menembak langsung ke barisan demonstran, dan .”
Salah satu aksi protes anti-pemerintah terbesar terjadi pada Kamis lalu. Sehari setelahnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menyatakan, “Republik Islam tidak akan mundur.”
Peringatan tersebut diyakini menjadi penanda dimulainya pertumpahan darah terparah.
Sejak penindakan dimulai, hampir 650 demonstran dilaporkan tewas dan ribuan lainnya terluka, menurut satu kelompok pemantau hak asasi manusia.
Seorang demonstran di Teheran menggambarkan situasi di jalanan seperti medan perang, dengan warga dan aparat saling mengambil posisi serta berlindung di balik bangunan.
“Namun dalam perang, kedua pihak punya senjata. Di sini, rakyat hanya meneriakkan tuntutan, lalu dibunuh. Ini perang sepihak,” tuturnya.
Pemadaman Digital Iran Tembus 108 Jam
Pemadaman digital yang memutus sebagian besar warga Iran dari dunia luar dan satu sama lain kini telah melewati 108 jam, menurut pembaruan dari pemantau internet NetBlocks.
Pemutusan jaringan dimulai setelah video-video aksi protes tersebar di media sosial dan kesaksian warga Iran mulai dilaporkan kepada jurnalis asing.
Organisasi HAM Witness menyebut lebih dari 90 juta orang terdampak pemutusan akses internet sejak protes meletus.
BBC Persian sempat berhasil menghubungi sejumlah warga yang memperoleh akses internet sementara melalui Starlink, yang berfungsi layaknya menara seluler di luar angkasa, serta melalui metode alternatif lainnya.
Mereka mengungkapkan bahwa mengirim pesan singkat di dalam Iran sangat sulit. Bahkan, sebagian hanya menerima SMS yang berisi ajakan mengikuti demonstrasi pro-pemerintah atau peringatan agar tidak terlibat dalam aksi anti-pemerintah