BANGKOK – Ketegangan di perbatasan Thailand-Kamboja semakin memanas setelah militer Thailand merilis sebuah video yang menunjukkan asap hitam yang membubung dari stasiun pengisian bahan bakar di Distrik Kantharalak. Militer Thailand menuduh bahwa kerusakan tersebut akibat serangan roket dari pihak Kamboja.
Komando Wilayah Kedua Tentara Thailand melaporkan bahwa dalam serangan itu, sejumlah warga sipil dan pelajar mengalami luka-luka. Selain itu, tentara Thailand juga mengklaim telah menghancurkan sebuah kereta gantung yang menghubungkan ke Phu Makua, sebuah bukit yang terletak di wilayah sengketa kedua negara.
Pemerintah Thailand mengonfirmasi adanya korban jiwa, dengan satu warga sipil dilaporkan tewas di Provinsi Surin. Juru bicara pemerintah, Jirayu Houngsu, menyebutkan bahwa tujuh tentara Thailand terluka dalam insiden tersebut. Sementara itu, jumlah warga sipil yang terluka belum dapat dipastikan.
“Di antara korban luka terdapat seorang anak berusia lima tahun yang mengalami luka parah,” ujar Jirayu.
Di tengah situasi yang semakin mencekam, Perdana Menteri sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, meminta agar kehati-hatian tetap dijaga dalam merespons konflik ini. Ia mengungkapkan bahwa dirinya akan memimpin rapat darurat Dewan Keamanan Nasional di Bangkok.
Penting untuk dicatat bahwa saat ini Thailand dipimpin oleh perdana menteri sementara setelah Paetongtarn Shinawatra diskors oleh Mahkamah Konstitusi. Paetongtarn sedang diselidiki terkait dugaan pelanggaran etika setelah percakapan teleponnya dengan mantan pemimpin Kamboja, Hun Sen, bocor ke publik.
Percakapan yang terungkap pada 15 Juni itu menunjukkan Paetongtarn yang tampak terlalu mengalah pada Hun Sen dan bahkan mengkritik seorang komandan militer Thailand. Kebocoran percakapan tersebut memicu kemarahan publik dan semakin memperburuk krisis politik di Bangkok.