JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah antara Iran dan Israel memuncak di tengah dukungan terbuka Amerika Serikat terhadap serangan militer Israel ke instalasi strategis Iran.
Ketua DPR AS dari Partai Republik, Mike Johnson, menyatakan bahwa Israel benar dan memiliki hak untuk mempertahankan diri, pernyataan yang memantik kemarahan Teheran.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan agar tidak terjadi eskalasi konflik Timur Tengah yang berisiko menjalar menjadi benturan berskala lebih luas.
“Israel BENAR—dan berhak membela diri!” tulis Mike Johnson dalam unggahan media sosial yang menyertakan gambar bendera Israel, memperjelas posisi Gedung Capitol dalam konflik yang semakin rumit di Timur Tengah.
Pernyataan itu datang bersamaan dengan laporan bahwa militer Israel telah melancarkan lima gelombang serangan ke sejumlah target penting di Iran.
Serangan ini terjadi ketika perundingan sensitif mengenai program nuklir Iran tengah berlangsung antara Washington dan Teheran.
PBB Mengutuk Eskalasi Militer
Reaksi cepat datang dari Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, melalui juru bicaranya, Farhan Haq, yang menyebut serangan tersebut sebagai bentuk eskalasi militer yang sangat mengkhawatirkan.
“Sekjen mengutuk segala eskalasi militer di Timur Tengah,” ujar Haq, menegaskan pentingnya pengendalian maksimal di tengah situasi yang berpotensi meletus menjadi konflik yang lebih dalam.
Iran Sebut AS Terlibat dan Siap Membalas
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa mereka memiliki dasar hukum untuk melakukan pembalasan atas serangan Israel yang dinilai sebagai tindakan provokatif.
Dalam pernyataan resminya, Teheran menyebut bahwa Amerika Serikat juga harus bertanggung jawab atas “petualangan berbahaya” Israel, karena diduga mengetahui dan bahkan menyetujui aksi militer tersebut.
“Efek dan konsekuensi berbahaya dari agresi rezim Zionis terhadap tanah air kami yang dicintai, Iran, akan menjadi tanggung jawab rezim ini dan pendukungnya,” tegas pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran, melansir Aljazeera.
“Tindakan agresif rezim Zionis terhadap Iran tidak mungkin dilakukan tanpa koordinasi dan otorisasi dari Amerika Serikat…”
Korps Garda Revolusi Islam Siap Balas
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga menegaskan kesiapan mereka untuk merespons tindakan Israel dengan kekuatan penuh.
Dalam pernyataan resminya, IRGC memberikan penghormatan kepada Hossein Salami, salah satu komandan utama mereka yang tewas dalam serangan tersebut.
Meskipun kehilangan figur penting, mereka menyatakan tidak akan goyah dan siap melanjutkan perlawanan.
“…bangsa Iran yang mulia dan revolusioner… diyakinkan bahwa komando Korps Garda Revolusi Islam dengan otoritas dan kecerdasan… siap untuk menanggapi pelanggaran musuh Zionis secara tegas,” bunyi pernyataan IRGC.
Militer Israel: Lima Gelombang Serangan dan Ratusan Target
Mengutip laporan dari The Times of Israel, seorang pejabat militer Israel yang tak disebutkan namanya menyatakan bahwa pasukan pertahanan Israel telah meluncurkan setidaknya lima gelombang serangan ke wilayah Iran.
Laporan menyebut sedikitnya delapan lokasi strategis menjadi sasaran dalam operasi besar-besaran tersebut, yang disebut sebagai tanggapan atas ancaman regional yang dianggap meningkat dari Teheran.
Ancaman Perang Besar di Depan Mata
Kondisi saat ini menunjukkan bahwa kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang konflik besar.
Dukungan terbuka dari AS kepada Israel, respons keras dari Iran, serta keprihatinan dunia internasional menandakan bahwa situasi dapat memburuk sewaktu-waktu.
PBB dan sejumlah negara menyerukan agar semua pihak segera menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi sebelum krisis berubah menjadi konflik nuklir yang tak terhindarkan.***