JAKARTA – Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengenai ketertarikannya pada Greenland memicu perdebatan serius di Eropa terkait masa depan NATO. Hubungan Washington dengan negara-negara Eropa yang sudah tegang akibat isu perdagangan, pertahanan, dan Ukraina kini semakin diuji oleh perhatian Trump terhadap wilayah otonom di bawah kedaulatan Denmark tersebut.
Para pemimpin Eropa menegaskan bahwa segala bentuk upaya aneksasi terhadap Greenland tidak dapat diterima, seraya menyatakan dukungan penuh kepada Denmark. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyebut sekutu tengah membahas langkah-langkah untuk menjaga keamanan kawasan Arktik, namun enggan berspekulasi soal kemungkinan berakhirnya NATO jika AS benar-benar bertindak terhadap Denmark.
Analis Atlantic Council, Elisabeth Braw, menilai situasi ini menciptakan dilema besar bagi NATO. “NATO dibentuk untuk melindungi keutuhan wilayah negara-negara anggotanya. Kita belum pernah melihat sebelumnya satu anggota NATO mengancam wilayah anggota lainnya,” ujarnya, dikutip dari Greenland, Rabu (14/1/2026). Ia mengingatkan bahwa jika Denmark atau Greenland diserang oleh AS, maka hal itu bisa menandai berakhirnya NATO.
Braw memperingatkan bahwa penguasaan Greenland oleh AS akan menciptakan preseden global berbahaya, di mana negara kuat merasa bebas mengklaim wilayah negara lain. Hal ini berisiko merusak kepercayaan internal NATO dan menimbulkan ketidakmungkinan kerja sama militer antaranggota. Menurutnya, krisis ini hanya bisa diredam agar tidak semakin memburuk, karena kecil kemungkinan pandangan Trump mengenai Greenland dapat diubah oleh NATO maupun pemimpin Eropa.
