JAKARTA – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), Anindya N. Bakrie, menilai Indonesia memiliki momentum strategis untuk mencapai pertumbuhan ekonomi ambisius sebesar 8% dalam beberapa tahun ke depan. Faktor pendorong utama meliputi konsumsi domestik yang kuat, kepemimpinan yang stabil, dan skala ekonomi yang besar.
“Indonesia memiliki momentum yang tepat, tetapi kami juga percaya pada momentum ini dengan Presiden Prabowo,” ujar Anindya dalam panel bertajuk Looking Ahead: Investing to Indonesia’s Growth Potential pada hari kedua Indonesia Economic Summit (IES) di Hotel Shangri-La, Jakarta.
Ia kemudian menambahkan bahwa komunitas bisnis global masih melihat Indonesia sebagai negara dengan potensi pertumbuhan yang signifikan, setara dengan Amerika Serikat dan India.
Optimisme serupa disampaikan Hashim Djojohadikusumo, Pendiri Arsari Group dan Utusan Khusus Presiden untuk COP29. Menurutnya, Indonesia bahkan bisa melampaui target pertumbuhan 8%.
“Saya jauh lebih optimis. Saya sebenarnya sangat optimis bahwa kita akan melampaui 8%. Ini bahkan tidak hanya berbicara tentang teknologi tinggi, tetapi juga kebutuhan dasar,” kata Hashim.
Hashim menyoroti program Presiden Prabowo Subianto yang mencakup makanan bergizi gratis dan perumahan rakyat sebagai stimulus utama bagi perekonomian.
Berdasarkan proyeksi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), program makanan bergizi gratis diperkirakan akan menambah 0,86% pertumbuhan ekonomi pada tahun pertama implementasinya.
Meski optimistis, para pemimpin bisnis menekankan pentingnya meningkatkan investasi domestik dan asing untuk mendorong pertumbuhan di sektor-sektor produktif.
Ridha D.M. Wirakusumah, CEO Otoritas Investasi Indonesia (INA), menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menarik investasi. Namun, ia juga menyoroti perlunya peningkatan kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian.
“Ketika kita berbicara tentang PMA, beberapa mengatakan PMA diperlukan, beberapa mengatakan PMA adalah kejahatan yang diperlukan. Kembali ke contoh INA. INA telah menginvestasikan sekitar $4 miliar dengan 14 negara mitra. Untuk dapat membawa semua dana ini, kita harus mampu menunjukkan di mana tempat untuk berinvestasi,” kata Ridha.
Pada 2024, realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.714 triliun, meningkat 21% dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, Investasi Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp814 triliun atau 47,5%, sementara Investasi Modal Asing (PMA) mencapai Rp900 triliun atau 52,5%.
Sebagai dana kekayaan negara pertama, INA bertujuan untuk mempercepat pembangunan berkelanjutan dan menarik investasi asing guna mendukung pertumbuhan ekonomi.
Tadashi Maeda, Ketua Dewan Japan Bank for International Corporation (JBIC), juga menegaskan bahwa Indonesia kini berada di jajaran negara paling terkemuka di dunia, tepat di belakang India, Vietnam, dan Amerika Serikat.
“JBIC telah mendukung berbagai sektor dan proyek di Indonesia, termasuk proyek energi terbarukan, pembangunan ekonomi melalui pinjaman dan investasi, serta peningkatan ketahanan rantai pasok dan infrastruktur,” ujar Maeda.
Dengan momentum yang tepat dan dukungan investasi yang kuat, Indonesia berpotensi mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan.
