TEHERAN, IRAN – Tawaran negosiasi dari Presiden AS Donald Trump, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menolak segala bentuk dialog yang mengancam kedaulatan negaranya. Pernyataan ini disampaikan pada Senin (20/10/2025), sekaligus membantah keras klaim Washington bahwa serangan udara AS dan Israel pada Juni lalu berhasil memusnahkan program nuklir Iran.
Respons Khamenei ini muncul pasca gencatan senjata di Gaza antara Israel dan Hamas, yang sempat membuka peluang diplomasi baru di Timur Tengah.
Khamenei, yang dikenal sebagai figur sentral dalam kebijakan luar negeri Iran, menyoroti bahwa tawaran Trump untuk “kesepakatan damai” justru berpotensi menjadi alat tekanan.
Pernyataan ini datang di tengah ketegangan berkepanjangan pasca lima putaran negosiasi tidak langsung antara Teheran dan Washington, yang berujung pada perang udara selama 12 hari di Juni 2025. Saat itu, pasukan Israel dan AS menyerang situs-situs nuklir utama Iran, memicu kekhawatiran global soal proliferasi senjata nuklir di kawasan.
Menurut laporan media pemerintah Iran seperti Tehran Times, Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada intervensi asing dalam urusan dalam negeri dan kemajuan ilmiahnya.
Ia menyebut campur tangan AS dalam program nuklir Iran sebagai bentuk paksaan yang tak dapat diterima, terutama setelah Trump baru-baru ini menyatakan keterbukaannya untuk bernegosiasi dengan Teheran di hadapan parlemen Israel.
“Trump mengatakan dia adalah seorang pembuat kesepakatan, tetapi jika suatu kesepakatan disertai dengan paksaan dan hasilnya sudah ditentukan sebelumnya, itu bukanlah kesepakatan melainkan pemaksaan dan intimidasi,” ujar Khamenei, seperti dikutip Daily Times pada Selasa (21/10/2025).
Lebih lanjut, Khamenei mengecam narasi sukses dari pihak AS terkait serangan Juni lalu. Meski Washington mengklaim telah menghancurkan infrastruktur nuklir Iran, pemimpin Iran itu menilainya sebagai khayalan belaka.
“Presiden AS dengan bangga mengatakan mereka mengebom dan menghancurkan industri nuklir Iran. Baiklah, teruslah bermimpi!” tegas Khamenei.
Kritik Khamenei juga menyasar hak AS untuk ikut campur dalam program nuklir sipil Iran, yang menurut Teheran murni untuk tujuan damai dan pengembangan energi. “Tidak pantas, salah, dan bersifat memaksa,” begitu Khamenei menggambarkan intervensi semacam itu.
Perkembangan ini berpotensi memperumit upaya diplomasi internasional, termasuk peran PBB dan Uni Eropa dalam mediasi nuklir Iran. Sebelumnya, kesepakatan nuklir JCPOA (Joint Comprehensive Plan of Action) tahun 2015 sempat meredam ketegangan, tapi ditarik oleh AS di era Trump pertama.
Kini, dengan gencatan senjata Gaza sebagai momentum, dunia menanti apakah penolakan Khamenei akan memicu eskalasi baru atau justru membuka ruang dialog yang lebih setara.
