KIEV, UKRAINA – Kiev kembali menjadi sasaran serangan hebat Rusia dengan gelombang rudal dan drone yang menghantam kota tersebut. Insiden tragis ini, yang menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 90 lainnya, memaksa Presiden Volodymyr Zelensky membatalkan rencana kehadirannya di pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan.
Serangan Mematikan di Jantung Ukraina
Pada Rabu malam (23/4/2025), Rusia melancarkan salah satu serangan terbesar dalam sembilan bulan terakhir ke Kiev. Menurut laporan Kementerian Pertahanan Rusia, sebanyak 70 rudal dan 145 drone diluncurkan, menyasar infrastruktur militer dan industri strategis Ukraina.
“Ini adalah salah satu serangan paling kompleks dan berani dari Rusia,” ungkap Zelensky saat berada di Afrika Selatan, menyoroti dampak serangan tersebut.
Bangunan-bangunan di Kiev rusak parah, dengan warga sipil terjebak di bawah reruntuhan. Wali Kota Kiev, Vitali Klitschko, melaporkan kerusakan signifikan pada fasilitas sipil, termasuk rumah sakit dan sekolah.
Serangan ini terjadi di tengah tekanan diplomatik dari Presiden AS Donald Trump, yang mendorong Ukraina untuk menyerahkan sebagian wilayahnya demi gencatan senjata usulan yang disebut sebagai “bunuh diri politik” oleh seorang anggota parlemen Ukraina.
Zelensky Batal Hadiri Upacara Bersejarah
Pemakaman Paus Fransiskus, yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (26/4/2025) di Basilika Santa Maria Maggiore, Roma, menjadi salah satu peristiwa global yang dihadiri banyak pemimpin dunia.
Presiden AS Donald Trump, mantan Presiden Joe Biden, hingga Presiden Prancis Emmanuel Macron dipastikan hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pemimpin Gereja Katolik yang wafat pada 21 April 2025.
Namun, krisis di Kiev membuat Zelensky harus memprioritaskan situasi darurat di negaranya.
“Serangan ini jelas bertujuan untuk menekan Amerika Serikat,” kata Zelensky, menegaskan bahwa Ukraina tetap siap bernegosiasi setelah gencatan senjata penuh tercapai.
Keputusannya untuk absen di Vatikan mencerminkan beratnya tanggung jawab yang dihadapinya di tengah konflik yang kian memanas.
Ketegangan Diplomatik dan Dampak Global
Serangan Rusia ke Kiev tidak hanya memperburuk situasi di Ukraina, tetapi juga memicu kekhawatiran di antara sekutu AS. Banyak negara Eropa yang mengkritik usulan Trump untuk mengakui aneksasi Krimea oleh Rusia, menyebutnya sebagai pelanggaran norma hukum internasional pasca-Perang Dunia II.
“Mengakui perubahan perbatasan melalui kekerasan adalah langkah berbahaya,” kata seorang diplomat Eropa kepada CNN.
Sementara itu, pemakaman Paus Fransiskus menjadi simbol persatuan global di tengah gejolak dunia. Kehadiran lebih dari 170 delegasi, termasuk utusan Indonesia seperti Presiden ke-7 Joko Widodo dan Ignasius Jonan, menunjukkan pengaruh besar Paus Fransiskus dalam urusan agama dan kemanusiaan.
Situasi di Kiev: Apa Selanjutnya
Serangan terbaru ini meningkatkan tekanan pada Zelensky, baik dari dalam negeri maupun dari komunitas internasional. Warga Ukraina, yang masih berjuang melawan dampak perang, kini menghadapi kerusakan infrastruktur yang semakin parah.
“Kami tidak akan menyerah, tetapi dunia harus bertindak lebih tegas untuk menghentikan agresi ini,” tegas Zelensky.
Di sisi lain, absennya Zelensky dari pemakaman Paus Fransiskus menjadi pengingat bahwa konflik di Ukraina terus mengubah dinamika global. Dengan Rusia yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan serangan, dan negosiasi perdamaian yang masih jauh dari kata sepakat, dunia kini menyaksikan bagaimana krisis ini akan membentuk masa depan Eropa dan hubungan internasional.