PYONGYANG, KORUT – Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un secara mengejutkan memecat Wakil Perdana Menteri Kabinet, Yang Sung-ho, langsung di lokasi saat menghadiri peresmian tahap pertama modernisasi Kompleks Mesin Ryongsong.
Pemecatan tersebut diumumkan kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, pada Selasa (20/1/2026). Langkah ini menandai sikap tegas Kim dalam menegakkan disiplin di kalangan pejabat senior menjelang kongres pertama Partai Buruh Korea dalam lima tahun terakhir.
Menurut KCNA, Kim menyatakan Yang Sung-ho tidak layak dipercaya untuk memikul tanggung jawab besar.
“Singkatnya, ini seperti memasang kereta pada seekor kambing—sebuah kesalahan fatal dalam proses penunjukan kader kami,” ujar Kim dengan nada kesal.
“Bagaimanapun juga, yang menarik kereta adalah seekor lembu, bukan kambing.”
Kritik keras Kim tidak berhenti di situ. Ia menyalahkan pejabat terkait atas keterlambatan proyek modernisasi Kompleks Mesin Ryongsong di Provinsi Hamgyong Utara yang menyebabkan kerugian ekonomi signifikan.
“Akibat bimbingan ekonomi yang tidak bertanggung jawab, kasar, dan tidak kompeten dari para pejabat terkait, proyek modernisasi tahap pertama Kompleks Mesin Ryongsong mengalami kesulitan,” tegasnya.
Kim juga mengecam sikap para kader yang dinilainya “terlalu lama terbiasa dengan sikap menyerah, tidak bertanggung jawab, dan pasif.” Ia menilai para pembuat kebijakan ekonomi saat ini hampir tidak mampu memimpin penataan ulang industri nasional secara menyeluruh maupun meningkatkan level teknologinya.
Kompleks Mesin Ryongsong merupakan fasilitas strategis di sektor manufaktur mesin Korea Utara yang menghubungkan wilayah timur laut dengan kota Wonsan di selatan. Pakar Korea Utara dari University of North Korean Studies, Yang Moo-jin, menyebut kompleks tersebut menyumbang sekitar 16 persen dari total produksi mesin nasional.
Pemecatan terbuka ini mengingatkan pada kasus-kasus sebelumnya, termasuk eksekusi Jang Song-thaek, paman Kim Jong-un, pada 2013 atas dugaan upaya kudeta.
“Kim sedang menggunakan akuntabilitas publik sebagai taktik kejut untuk memperingatkan para pejabat partai,” kata Yang Moo-jin kepada AFP.
Langkah tegas ini terjadi di tengah persiapan kongres Partai Buruh Korea yang dijadwalkan berlangsung dalam beberapa pekan mendatang. Isu ekonomi, pertahanan, dan perencanaan militer diperkirakan menjadi agenda utama.
Bulan lalu, Kim juga menegur sejumlah pejabat atas sikap malas dan berjanji memberantas berbagai “kejahatan”, dengan media negara melaporkan banyaknya “penyimpangan disiplin”, istilah yang kerap digunakan sebagai eufemisme untuk korupsi.
Korea Utara saat ini terus menghadapi tekanan ekonomi berat akibat sanksi PBB terkait program nuklir dan rudalnya, ditambah kekurangan pangan kronis, kerentanan terhadap bencana alam, serta prioritas anggaran yang tinggi pada sektor militer. Pemecatan ini menjadi sinyal kuat bahwa Kim menuntut kinerja lebih tinggi dari aparatur negara demi mendukung upaya revitalisasi industri nasional.