PYONGYANG, KORUT – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, memberikan penghargaan kepada pasukan militernya yang telah bertempur mendampingi Rusia melawan Ukraina di wilayah Kursk.
Dalam upacara megah di Pyongyang, Kim memuji keberanian prajuritnya, menyebut mereka sebagai “tentara heroik” yang telah mengukuhkan reputasi militer Korut sebagai “yang terkuat di dunia.”
Dalam pidatonya, Kim Jong Un menegaskan, “Tentara kita adalah pasukan heroik. Tentara kita telah sepenuhnya menunjukkan kualitasnya. Hasil ini telah mengukuhkan sebutan dan reputasinya sebagai tentara paling kuat di dunia,” seperti dikutip dari kantor berita resmi Korut, KCNA, pada Kamis (21/8/2025)
Upacara tersebut diadakan untuk menyambut para komandan militer yang kembali dari misi tempur di Rusia.
Kim mengapresiasi peran mereka dalam operasi pembebasan wilayah Kursk, yang sempat dikuasai pasukan Ukraina hingga Maret 2025. Menurut laporan intelijen Korea Selatan, lebih dari 10.000 tentara Korut telah dikerahkan ke Rusia sejak 2024, lengkap dengan pasokan artileri, rudal, dan sistem roket jarak jauh.
Namun, misi ini tidak luput dari korban, dengan sekitar 600 prajurit Korut tewas dan ribuan lainnya terluka
Kim Jong Un juga menyinggung upaya diplomasi internasional, merujuk pada pembicaraan Presiden AS Donald Trump yang berupaya mengakhiri konflik Rusia-Ukraina.
Meski begitu, ia menegaskan komitmen Korut untuk terus mendukung Rusia, dengan menyatakan, “Tentara kami sekarang melakukan apa yang seharusnya, dan apa yang perlu dilakukan. Kami juga akan melakukannya di masa depan.”
Pengerahan pasukan Korut ke Rusia merupakan bagian dari perjanjian militer strategis dengan Moskow, yang diteken Kim Jong Un dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 2024. Perjanjian ini mencakup klausul pertahanan bersama, memperkuat aliansi kedua negara di tengah sanksi internasional.
Langkah Korut ini memicu kecaman dari Korea Selatan dan sekutu Barat, yang menilai tindakan Pyongyang memperkeruh situasi geopolitik global.
Sementara itu, hubungan Korut dengan Korea Selatan semakin tegang setelah adik Kim Jong Un, Kim Yo Jong, mengecam latihan militer gabungan Korsel-AS sebagai tindakan bermuka dua.
Dengan nada percaya diri, Kim Jong Un menegaskan bahwa militer Korut akan terus memperkuat kemampuan tempurnya, siap menghadapi segala ancaman.
Upacara penghargaan ini menjadi simbol solidaritas Korut dengan Rusia, sekaligus pesan kepada dunia tentang ambisi militernya.