JAKARTA – Tanggal 25 September menyimpan deretan peristiwa monumental yang membentuk sejarah dunia, mulai dari fondasi kota kreatif di Indonesia hingga konflik politik mematikan di Asia Selatan. Pada hari ini, kita ingat bagaimana keputusan kolonial melahirkan pusat ekonomi Jawa Barat, kemerdekaan baru lahir di Afrika Utara, hingga bencana alam dahsyat yang menguji ketangguhan Jepang.
Berikut rangkuman fakta menarik peristiwa 25 September yang wajib diketahui.
Hari Jadi Kota Bandung: Fondasi Kota Parijs van Java
Kota Bandung, yang kini dikenal sebagai pusat mode dan inovasi di Indonesia, memulai perjalanannya pada 25 September 1810. Saat itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels, menerbitkan surat keputusan penting yang mengubah wajah kawasan Priangan. Dokumen tersebut fokus pada pembangunan infrastruktur esensial, seperti jalan raya dan fasilitas umum, untuk mendukung pemindahan pusat pemerintahan dari Dayeuhkolot ke lokasi baru yang lebih strategis.
Dipimpin oleh Bupati R.A. Wiranatakusumah II, relokasi ini menandai awal era modern Bandung. Hingga kini, peristiwa itu dirayakan sebagai Hari Jadi Kota Bandung, mengingatkan pada transformasi dari desa sederhana menjadi metropolis berpenduduk jutaan jiwa. Luas wilayahnya pun berevolusi: dari 900 hektare pada 1906 saat resmi menjadi gemeente oleh Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz, hingga mencapai 167,67 kilometer persegi saat ini sebagai ibu kota Jawa Barat.
Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Herman Willem Daendels mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk kawasan Bandung. Kota Bandung sendiri secara resmi mendapat status gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal JB van Heutsz pada 1 April 1906 dengan luas wilayah waktu itu 900 hektare.
Peristiwa ini tidak hanya simbol kemajuan urban, tapi juga warisan perjuangan bangsa menuju kemandirian, terutama pasca-kemerdekaan Indonesia pada 1945 ketika luasnya melonjak menjadi 8.000 hektare.
Tragedi Politik: Pembunuhan Perdana Menteri Sri Lanka Solomon Bandaranaike
Di sisi lain dunia, 25 September 1959 menjadi hari kelam bagi demokrasi Asia Selatan. Perdana Menteri Sri Lanka, Solomon Bandaranaike, tewas dibunuh oleh seorang biksu Buddha bernama Taluwe Somarana di kantor resminya. Serangan tembakan itu terjadi di pagi hari, dan Bandaranaike menghembuskan napas terakhir keesokan harinya, meninggalkan kekosongan kepemimpinan yang langsung diisi istrinya, Sirimavo Bandaranaike—wanita pertama di dunia yang menjabat perdana menteri.
Pembunuhan ini mencerminkan gejolak politik internal: ketegangan antara faksi kanan dan kiri dalam pemerintahan, di mana kelompok konservatif dikabarkan khawatir dengan naiknya pengaruh sayap kiri.
Perdana Menteri Sri Lanka, Solomon Bandaranaike dibunuh oleh seorang biksu Buddha, Taluwe Somarana pada 25 September 1959. Dia tewas ditembak di kantornya pada pagi hari. Diduga, pembunuhan tersebut didasari atas motif politik. Dimana, kala itu ada dua kubu di pemerintahan yakni, kubu kanan dan kiri.
Kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang radikalisasi dan stabilitas politik, memengaruhi dinamika Sri Lanka hingga era modern.
Kemerdekaan Aljazair: Lahirnya Republik Demokratik
Lompat ke era pasca-Perang Dunia II, 25 September 1962 menandai berdirinya Republik Demokratik Aljazair secara resmi setelah perjuangan panjang melawan penjajahan Prancis. Ferhat Abbas terpilih sebagai presiden pemerintahan sementara, menandai transisi dari koloni menjadi negara berdaulat penuh. Kemerdekaan Aljazair sendiri diakui Prancis pada 3 Juli 1962, dengan pengumuman resmi pada 5 Juli.
Pada 25 September 1962, Republik Demokratik Aljazair resmi berdiri, catat dokumen sejarah. Saat itu, Ferhat Abbas terpilih menjadi Presiden Aljazair dari pemerintahan yang provinsional. Aljazair merdeka dari Prancis dan baru diakui kemerdekaannya pada 3 Juli 1962.
Peristiwa ini menginspirasi gerakan dekolonisasi global, menjadikan Aljazair sebagai simbol perlawanan anti-imperialisme.
Gempa Hokkaido 2003: Kekuatan Alam yang Tak Terduga
Tak kalah dramatis, bencana alam mencuri perhatian pada 25 September 2003 ketika gempa magnitudo 8,3 mengguncang Hokkaido, Jepang—gempa terbesar sepanjang tahun itu. Getaran dahsyat ini memicu tsunami, tapi untungnya tidak ada korban jiwa. Namun, sekitar 589 orang mengalami luka-luka akibat kerusakan infrastruktur.
Gempa berkekuatan magnitudo 8,3 mengguncang daerah Hokkaido, Jepang pada 25 September 2003. Gempa besar tersebut menimbulkan tsunami. Kendati demikian, tidak ada korban jiwa atau korban meninggal dalam peristiwa tersebut. Hanya saja, tercatat ada sekira 589 orang yang mengalami luka-luka.
Respons cepat pemerintah Jepang, termasuk sistem peringatan dini, menjadi contoh sukses mitigasi bencana.
Rentetan peristiwa ini menunjukkan bagaimana satu tanggal bisa merangkum narasi kemajuan, konflik, dan ketahanan manusia. Dari urbanisasi di Bandung hingga perjuangan kemerdekaan Aljazair, hari ini mengajak kita merefleksikan pelajaran sejarah untuk masa depan yang lebih baik.
