JAKARTA – Di tengah ramainya bursa transfer Eropa, nama Eguinaldo de Sousa Lemos mulai mencuri perhatian.
Pemain sayap cepat milik Shakhtar Donetsk ini masuk radar AS Roma setelah kegagalan klub Italia itu merekrut Claudio Echeverri dari Manchester City.
Lahir tahun 2004, Eguinaldo baru berusia 20 tahun, namun reputasinya di kalangan pemandu bakat sudah lama tercium berkat kombinasi kecepatan dan teknik mumpuni.
Roma melalui direktur olahraga Massara kini menaruh minat serius, mengikuti jejak Bologna yang sebelumnya sempat mengamati sang pemain.
Bersama Fabio Silva dan Nene Dorgeles, Eguinaldo menjadi opsi utama untuk memperkuat lini depan asuhan Gian Piero Gasperini.
Shakhtar membanderolnya sekitar 15 juta euro, jauh di bawah harga 40 juta euro rekan senegaranya, Kevin.
Namun, di balik angka itu, ada kisah hidup yang layak difilmkan.
Seperti dikutip Garuda TV dari Gazzetta, Eguinaldo lahir dan besar di Moncao, kota kecil di Brasil yang dikelilingi ladang millet.
Sejak usia tujuh tahun, ia sudah membantu orang tuanya mencabut rumput dan memanen hasil tani.
“Saya membantu mencabut rumput, memanen, itu kerja keras,” kenangnya dalam sebuah wawancara tiga tahun lalu.
Meski hidup sederhana, ia memupuk mimpi menjadi pesepak bola profesional dengan menjadikan Neymar dan Ronaldinho sebagai idola.
Mimpi, Kehilangan, dan Kebangkitan
Awal 2022 menjadi titik balik. Saat membela klub kecil Artsul, bakatnya menarik perhatian raksasa Brasil: Botafogo, Flamengo, dan Vasco da Gama.
Ia memilih Vasco, menganggapnya mimpi yang menjadi kenyataan. Namun, Februari di tahun yang sama, tragedi datang — sang ayah meninggal karena serangan jantung.
“Minggu malam, bibi saya menelepon sambil menangis, dan dunia saya runtuh,” ujarnya.
“Saya ingin menyerah. Saya tak ingin kembali, semua terasa tak ada artinya.”
Meski terpukul, dukungan keluarga membuatnya kembali ke Rio de Janeiro dan melanjutkan karier.
Sayangnya, delapan bulan kemudian, ia kembali kehilangan orang-orang terdekat: ibu angkat dan kakeknya.
Penderitaan itu justru menempanya menjadi pribadi yang lebih kuat.
Rekor Kecepatan dan Karier di Eropa
Nama Eguinaldo kian dikenal saat masuk Timnas U-20 Brasil pada Oktober 2022.
Dalam laga melawan Novorizontino, ia mencatat kecepatan 37,5 km/jam, memecahkan rekor sebelumnya, setelah di pertandingan melawan Operário ia berlari 36,8 km/jam. Kecepatannya di lapangan memberinya julukan “Panah Brasil”.
Pada 21 Juli 2023, tepat sebelum ulang tahunnya yang ke-19, ia menjadi ayah dari Joao Lucas.
Sepuluh hari berselang, ia memulai petualangan baru di Eropa dengan menandatangani kontrak lima tahun bersama Shakhtar Donetsk hingga 2028.
Dalam 61 laga di semua kompetisi bersama Shakhtar, ia menorehkan 11 gol dan 11 assist, umumnya bermain sebagai penyerang tengah atau sayap kiri.
Posturnya ramping namun bertenaga: tinggi 1,75 meter dan berat 75 kg.
“Dia sangat kuat, tekniknya luar biasa, menyerang ruang dengan baik, dan penyelesaian akhirnya mengesankan untuk usianya,” kata Rogério Pina, pelatihnya di Artsul tahun 2020.
Kini, ketangguhan Eguinaldo di lapangan dan kehidupannya yang penuh ujian menjadi daya tarik tersendiri.
Tidak hanya bagi klub-klub besar Eropa, tapi juga bagi para penggemar yang mencari sosok pejuang sejati dalam dunia sepak bola.***