JAKARTA – Saat Gaza menghadapi salah satu periode tergelap dalam sejarah modernnya, seorang wanita asal Turkiye, Kevser Yilmaz Jarada, yang telah menghabiskan 24 tahun hidup di wilayah tersebut, mengenang masa-masa penuh cobaan, serangan udara, kekurangan, dan keteguhan iman. Kevser, yang pindah ke Gaza setelah menikah pada 1999, mengungkapkan bahwa ia merasa sangat dekat dengan warga Gaza, bahkan menganggap dirinya sebagai bagian dari mereka.
“Saya mengalami perang, blokade, dan kesulitan bersama warga Gaza. Saya menganggap diri saya bagian dari mereka—saya merasa seperti orang Gaza,” ujar Jarada sebagaimana dilansirdari Anadolu, Sabtu (8/11/2025).
Jarada menjelaskan bahwa sebelum tahun 2005, pemukim Israel yang menduduki Gaza hidup di zona tertutup dengan fasilitas serba mewah, jauh berbeda dengan kondisi yang dialami warga lokal yang harus bertahan hidup di tengah kesulitan ekonomi akibat intifada atau perlawanan terhadap pendudukan. Meski demikian, menurutnya, warga Gaza tetap gigih bertahan dan tidak membiarkan para pemukim hidup nyaman di tanah mereka.
“Warga Gaza tetap bertahan dan tidak membiarkan para pendudukan hidup nyaman di tanah mereka. Rakyat sendiri yang membersihkan tanah mereka dari penjajah. Setelah masa itu, tak ada lagi satu pun warga Yahudi di Gaza,” kata Jarada.
Pendidikan Tetap Berjalan Meski Dalam Keadaan Perang
Jarada menekankan pentingnya pendidikan di Gaza, meskipun kondisi kehidupan sangat sulit. “Di Gaza, hidup bisa berhenti, tapi pendidikan tidak. Bahkan saat perang, sekolah tetap berjalan,” tegasnya. Anak-anak di Gaza, lanjutnya, tetap melanjutkan pendidikan meski harus menghadapi pemadaman listrik yang sering kali hanya berlangsung 4–8 jam sehari, serta akses air yang terbatas.
“Biasa listrik hanya menyala 4–8 jam per hari, kadang bahkan tidak sama sekali,” ujar Jarada. “Kami menyesuaikan pekerjaan dengan jam listrik. Kalau listrik datang malam hari, saya mencuci pakaian, menyetrika, dan menyiapkan makanan saat itu juga.”
Kehidupan yang Mengajarkan Ketahanan
Jarada menggambarkan kehidupan di Gaza sebagai sesuatu yang keras, namun justru memperkuat ketahanan mental dan semangat juang warganya. “Hidup memang berat, tapi justru membuat mereka lebih kuat. Warga Gaza memiliki keimanan yang kuat; mental mereka tidak mudah goyah. Setelah perang, mereka cepat memulihkan diri dan melanjutkan hidup. Mereka tidak pernah berkata, ‘kami menyerah’ karena mereka tahu takdir mereka dan menjalaninya,” ujar Jarada.
Setelah kembali ke Turki pada musim panas 2023 karena alasan kesehatan, Jarada menyaksikan langsung ketegangan yang terus meningkat di Gaza, dengan bentrokan yang hampir terjadi setiap tahun. Meski demikian, dia menegaskan bahwa Gaza tidak pernah menyerah meski menghadapi serangan besar dan blokade yang terus berlanjut.
“Warga Gaza rela berkorban demi melindungi Masjid Al-Aqsa. Mereka tidak bertanya mengapa perang dimulai, tapi menyadari kekuatan mereka sendiri. Gaza tidak pernah kalah, meskipun Israel belum berhasil memulihkan semua sandera maupun sepenuhnya menduduki Gaza,” tegasnya.
Membangun Kembali Gaza Setelah Setiap Serangan
Mengenang kondisi setelah serangan besar pada 8 Oktober 2023, Jarada menggambarkan kekurangan yang parah akibat blokade Israel, dengan banyak warga yang bertahan hidup dengan air sumur dan tanaman liar. “Anak-anak saya pernah bertahan dua minggu hanya dengan air, bahkan menumbuk pakan ayam untuk membuat roti,” ceritanya.
Setelah setiap pemboman, menurut Jarada, meskipun rumah-rumah hancur dan infrastruktur porak-poranda, warga Gaza selalu berhasil membangun kembali diri mereka. “Begitu gencatan senjata terjadi, masjid-masjid langsung diperbaiki dan jamaah kembali berkumpul. Itu menjadi pusat persatuan dan solidaritas. Setelah setiap pemboman, rumah-rumah diperbaiki, jalan dibersihkan, dan kehidupan berlanjut,” katanya.
Rasa Syukur dan Solidaritas di Tengah Kesulitan
Meskipun hidup di Gaza penuh dengan kekurangan dan penderitaan, Jarada menyebutkan bahwa orang Gaza tetap menunjukkan rasa syukur yang luar biasa. “Masyarakat Gaza sangat dermawan. 24 tahun tinggal di sana telah mengajarkan saya arti rasa syukur, kesabaran, dan solidaritas,” ungkapnya.
“Memperbesar anak-anak saya di Gaza adalah kehormatan. Dunia kini telah melihat keteguhan dan martabat rakyat Gaza,” ujar Jarada, berharap suatu hari nanti semua umat Muslim dapat berdoa bersama di Yerusalem yang bebas.
Dengan kisah keteguhan dan daya tahan warga Gaza yang ia alami secara langsung, Jarada memberikan gambaran yang kuat tentang semangat juang dan ketahanan mereka meski berada di bawah tekanan yang tak terbayangkan.