ANKARA – Presiden Kolombia, Gustavo Petro, mengumumkan larangan penuh ekspor batu bara ke Israel sebagai bentuk protes terhadap operasi militer Israel di Gaza, yang ia sebut sebagai “genosida” terhadap warga Palestina.
“Tidak satu ton pun batu bara akan dikirim ke Israel,” tegas Petro, dilansir dari Anadolu, Selasa (29/7/2025), memperkuat larangan sebelumnya yang telah diberlakukan sejak Agustus 2024. Ia juga memerintahkan Angkatan Laut Kolombia untuk mencegat setiap pengiriman batu bara yang ditujukan ke Israel dan memperingatkan perusahaan pelanggar akan menghadapi pemutusan kontrak.
“Mereka yang tidak mematuhi keputusan ini akan melihat kontrak mereka dengan negara dibatalkan,” ujarnya, merujuk langsung pada perusahaan multinasional Glencore.
Petro mengkritik pejabat pemerintah yang diduga membiarkan ekspor tetap berjalan meski ada larangan. Ia menegaskan bahwa Kolombia “tidak akan terlibat” dalam genosida di Gaza.
Larangan ini menjadi pukulan nyata bagi Israel, yang menerima hampir setengah dari impor batu baranya dari Kolombia. Hubungan diplomatik antara Bogota dan Tel Aviv sendiri telah terputus sejak 2023 menyusul meningkatnya korban sipil di Gaza.
Petro menyatakan bahwa hubungan baru hanya mungkin terjadi “setelah kekerasan berakhir dan perdamaian dipulihkan”.
Israel diketahui telah memberlakukan blokade terhadap Gaza selama 18 tahun dan menutup semua penyeberangan sejak 2 Maret 2025, memperburuk krisis kemanusiaan. Sejak 7 Oktober 2023, serangan militer Israel telah menewaskan hampir 60.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak.
Pada November lalu, Pengadilan Kriminal Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap PM Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menhan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional.