JAKARTA – Jumlah korban tewas akibat tabrakan kereta berkecepatan tinggi di Spanyol selaltan bertambah menjadi 39 orang, sementara lebih dari 120 orang lainnya luka-luka, menurut Kementerian Dalam Negeri pada Senin (19/1/2026). Tragedi ini disebut sebagai kecelakaan kereta api paling mematikan di negera itu dalam lebih dari satu dekade.
Insiden terjadi Minggu malam ketika kereta Iryo rute Malaga–Madrid tergelincir di dekat Adamuz dan menyeberang ke jalur lain, lalu ditabrak kereta Renfe dari arah berlawanan. Beberapa gerbong terguling ke tanggul setinggi empat meter, membuat ratusan penumpang terjebak di reruntuhan.
“Masalahnya adalah gerbong-gerbong itu bengkok, sehingga logamnya bengkok bersama orang-orang di dalamnya,” kata Francisco Carmona, kepala pemadam kebakaran Cordoba, kepada RTVE, yang dilansir dari Hurriyet Daily News. Ia menambahkan, “Kami bahkan pernah harus memindahkan jenazah seseorang untuk bisa menjangkau orang yang masih hidup.”
Menteri Perhubungan Oscar Puente menyebut kecelakaan ini “sangat aneh” karena terjadi di jalur lurus yang baru direnovasi. Kereta Iryo yang tergelincir disebut “praktis masih baru”.
Kesaksian Penumpang
Sejumlah penyintas menggambarkan suasana mencekam. Montse, penumpang kereta kedua, mengatakan, “Dengan sentakan, kereta berhenti total, dan semuanya menjadi gelap… Ada anak-anak yang menangis. Untungnya, saya berada di gerbong terakhir.”
Lucas Meriako, penumpang kereta pertama, menuturkan kepada La Sexta, “Ini terlihat seperti film horor. Kami merasakan benturan yang sangat kuat… banyak yang terluka karena pecahan kaca.”
Dukungan dan Belasungkawa
Perdana Menteri Pedro Sanchez menyebut peristiwa ini sebagai “malam yang penuh duka cita bagi negara kita”. Raja Felipe VI dan Ratu Letizia menyampaikan belasungkawa mendalam, sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen turut menyampaikan dukungan.
Layanan kereta cepat antara Madrid dan kota-kota Andalusia ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut, menurut pengumuman Adif.
