PYONGYANG, KORUT – Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyatakan kesiapan negaranya untuk memasok rudal ke Iran jika Teheran mengajukannya, disertai ancaman tajam: “Satu rudal saja cukup untuk melenyapkan Israel.”
Pernyataan provokatif itu disampaikan menyusul serangan militer gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, yang oleh Pyongyang dikecam sebagai aksi agresi ilegal serta pelanggaran berat terhadap kedaulatan Teheran.
Menurut analisis yang dikutip The Diplomat pada Kamis (5/3/2026), Pyongyang memandang eskalasi konflik ini bukan sekadar bentuk tekanan militer Washington terhadap musuh-musuhnya, melainkan serangan langsung terhadap mitra diplomatik dan militer jangka panjangnya.
Pergeseran Sikap Pyongyang
Baru dua minggu lalu, pada kongres Partai Buruh Korea di Pyongyang, Kim Jong-un sempat mengindikasikan keterbukaan untuk berdialog dengan Presiden AS Donald Trump. Namun, serangan terhadap Iran seolah membalikkan arah sikap tersebut.
Kurang dari 24 jam setelah operasi militer dimulai pada 28 Februari, Korea Utara merilis pernyataan resmi melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri yang tidak disebutkan namanya. Para pengamat menilai langkah ini memberi fleksibilitas bagi kepemimpinan untuk menyampaikan pesan lebih keras jika diperlukan.
Dalam pernyataan itu, Pyongyang menegaskan beberapa poin kunci: serangan Israel-AS merupakan tindakan agresi ilegal dan bentuk paling keji pelanggaran kedaulatan; aksi tersebut dapat diprediksi akibat perilaku hegemonik Washington di kawasan; serta mengecam penyalahgunaan kekuatan militer dan pelanggaran hukum internasional. Pyongyang juga menuding AS semakin merusak perdamaian global selama setahun terakhir, seraya mendesak negara-negara kawasan mengidentifikasi agresor dan bertanggung jawab memulihkan stabilitas Timur Tengah.
Risiko dan Keuntungan Strategis
Keterlibatan langsung Pyongyang dengan memasok senjata ke Iran berpotensi membawa risiko sekaligus peluang bagi rezim Kim Jong-un. Analisis The Diplomat menyoroti salah satu keuntungan potensial: mengisi celah dalam rantai pasok militer Rusia selama masa perang.
Baik Iran maupun Korea Utara telah menjadi pemasok utama peralatan militer pendukung Rusia di Ukraina, termasuk rudal, drone, dan amunisi. Jika Iran mengalihkan stok senjatanya untuk pertahanan diri, kesenjangan pasokan muncul—dan Pyongyang berpeluang mengisi kekosongan itu. Skenario ini dapat memperdalam ketergantungan Rusia pada Korea Utara, sehingga meningkatkan pengaruh Pyongyang terhadap Moskow.
Di sisi lain, krisis ini menyingkap kerentanan hubungan dengan Rusia sebagai mitra keamanan. Korea Utara menandatangani Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif dengan Rusia pada Juni 2024, sementara Iran menyusul pada Januari 2025. Namun, respons Moskow terhadap konflik Iran sejauh ini terbatas pada kecaman diplomatik dan pernyataan bahwa mereka tetap dalam “komunikasi konstan” dengan Teheran—tanpa dukungan militer konkret. Keengganan Rusia memberikan bantuan nyata memunculkan pandangan bahwa Iran dibiarkan sendirian oleh sekutunya, yang berpotensi menimbulkan keraguan bagi Pyongyang tentang keandalan Moskow di masa depan.
Pernyataan Kim Jong-un ini semakin mempertegas posisi Korea Utara di tengah dinamika geopolitik global yang memanas, di mana konflik Timur Tengah turut membentuk kalkulasi strategis Pyongyang.