JAKARTA – Kapal perang TNI Angkatan Laut KRI Banjarmasin-592 berhasil mengevakuasi 12 anak buah kapal (ABK) KM Putra Kwantan yang terbalik akibat kecelakaan laut di Perairan Laut Arafuru, Senin malam (19/1/2026). Operasi penyelamatan berlangsung di tengah cuaca ekstrem dengan gelombang tinggi dan angin kencang.
Insiden bermula saat KRI Banjarmasin-592 menerima laporan darurat melalui radio dari KM Jaya Sejahtera 66. Laporan tersebut menyebutkan kapal ikan KM Putra Kwantan mengalami kecelakaan dan terbalik di wilayah Laut Arafuru. Komandan KRI Banjarmasin-592 segera memerintahkan kapal bergerak menuju lokasi kejadian sambil berkoordinasi dengan Port Control Freeport dan Lanal Timika.
Setibanya di lokasi, tim KRI Banjarmasin-592 berhasil melakukan kontak visual dengan KM Putra Kwantan yang sudah terbalik. Sebanyak 12 ABK terlihat bertahan di atas badan kapal dalam kondisi sangat berbahaya. Mayoritas korban tidak mengenakan alat keselamatan diri, sementara cuaca terus memburuk.
Proses evakuasi sempat terkendala akibat kondisi laut yang tidak mendukung, termasuk pembatalan penurunan RHIB (Rigid Hull Inflatable Boat) demi keselamatan personel. Dalam situasi darurat ketika kapal korban semakin tenggelam, Komandan KRI Banjarmasin-592 mengambil keputusan taktis dengan menempelkan lambung kanan kapal perang langsung ke bangkai KM Putra Kwantan.
Melalui pintu pandu dan Tangga Yakob di lambung kanan KRI Banjarmasin-592, seluruh 12 ABK berhasil dievakuasi dengan selamat tanpa korban jiwa. Para korban kemudian mendapatkan perawatan medis, pemeriksaan kesehatan, serta penanganan pasca-trauma oleh tim medis di atas kapal.
Usai evakuasi, KRI Banjarmasin-592 melanjutkan pencarian terhadap satu ABK yang masih dinyatakan hilang berdasarkan keterangan nahkoda KM Putra Kwantan. Namun, pencarian terpaksa dihentikan sementara karena cuaca yang semakin memburuk, sehingga kapal melaksanakan peran jangkar di lokasi.
Keberhasilan operasi Search and Rescue (SAR) ini mencerminkan komitmen TNI Angkatan Laut dalam menjalankan tugas kemanusiaan serta menjaga keselamatan pelayaran di perairan Indonesia. Langkah cepat tersebut sejalan dengan penekanan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali untuk memberikan pertolongan segera kepada masyarakat maritim.
TNI AL menyatakan akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait guna mendukung proses pencarian lanjutan serta penanganan medis bagi para korban selamat. Operasi ini kembali menegaskan peran strategis TNI AL sebagai garda terdepan dalam penyelamatan jiwa di lautan Indonesia, khususnya di wilayah timur yang rawan cuaca ekstrem.