MANAMA, BAHRAIN – Perang yang memasuki hari kesembilan antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat-Israel semakin meluas ke wilayah vital negara Teluk. Untuk pertama kalinya, infrastruktur air bersih di Bahrain menjadi sasaran langsung ketika serangan drone Iran menyebabkan kerusakan material pada sebuah pabrik desalinasi air, Minggu (8/3) waktu setempat.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari agresi acak Teheran terhadap target-target sipil. “Agresi Iran secara acak membombardir target-target sipil dan menyebabkan kerusakan material pada pabrik desalinasi air menyusul serangan oleh drone,” demikian bunyi pernyataan kementerian tersebut .
Namun, Otoritas Air dan Listrik Bahrain bergerak cepat meredam kepanikan publik. Dalam keterangan terpisah, mereka memastikan bahwa “tidak ada dampak pada pasokan air atau kapasitas jaringan air” akibat serangan terhadap salah satu pabrik desalinasi tersebut .
Serangan ini tidak berdiri sendiri. Ia merupakan mata rantai balasan atas eskalasi sebelumnya. Hanya sehari sebelum insiden, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengecam keras serangan AS terhadap pabrik desalinasi air tawar di Pulau Qeshm, Iran selatan. Dalam cuitannya di platform X, Araghchi menyebut serangan itu sebagai “kejahatan terang-terangan dan nekat” yang berdampak pada terputusnya pasokan air ke 30 desa .
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengonfirmasi bahwa serangan ke Bahrain adalah respons langsung atas insiden Qeshm. Mereka mengklaim telah meluncurkan rudal berpemandu presisi ke Pangkalan AS Juffair di Bahrain—pangkalan yang menurut Teheran digunakan untuk menyerang fasilitas mereka .
Para analis memperingatkan bahwa konflik ini telah menyentuh titik paling rentan di kawasan Teluk: air. Di gurun pasir yang gersang, air minum tidak datang dari hujan, melainkan dari laut melalui teknologi desalinasi.
“Setiap orang menganggap Arab Saudi dan tetangganya sebagai negara minyak. Tapi saya menyebut mereka kerajaan air asin. Mereka adalah negara adidaya air bertenaga fosil buatan manusia,” ujar Michael Christopher Low, Direktur Middle East Center di University of Utah .
Data menunjukkan betapa fatalnya jika infrastruktur ini lumpuh. Kuwait menggantungkan 90 persen air minumnya pada desalinasi, Oman 86 persen, dan Arab Saudi 70 persen . Di Bahrain, serangan kali ini mungkin hanya menyebabkan kerusakan material, tetapi ancaman ke depan jauh lebih mengerikan.
Sebuah analisis CIA pada tahun 2010 telah memperingatkan bahwa lebih dari 90 persen air desalinasi di Teluk berasal dari hanya 56 pabrik, dan “masing-masing pabrik kritis ini sangat rentan terhadap sabotase atau aksi militer.” Kabel diplomatik AS yang bocor pada 2008 bahkan menyebut ibu kota Saudi, Riyadh, “harus dievakuasi dalam waktu seminggu” jika pabrik Jubail atau pipanya rusak parah .
David Michel, senior fellow for water security di Center for Strategic and International Studies, melihat pola baru dalam taktik perang ini. “Ini taktik asimetris. Iran tidak memiliki kapasitas yang sama untuk menyerang balik AS dan Israel. Tapi mereka memiliki kemungkinan ini: memaksakan biaya pada negara-negara Teluk untuk mendorong mereka melakukan intervensi atau menyerukan penghentian permusuhan” .
Korban dan Kontradiksi di Tengah Perang
Di tengah gempuran rudal, dampak fisik tak terhindarkan. Kantor berita Xinhua melaporkan bahwa selain pabrik desalinasi, serpihan misil Iran juga jatuh di dekat gedung universitas di Muharraq, Bahrain utara, melukai tiga orang .
Sejak permusuhan dimulai pada 28 Februari, Pasukan Pertahanan Bahrain mengklaim telah menghancurkan dan mencegat 92 rudal serta 151 drone yang diluncurkan dari Iran . Secara regional, konflik ini telah menewaskan setidaknya 1.230 orang di Iran, lebih dari 290 orang di Lebanon, 11 orang di Israel, dan enam tentara AS, menurut data Associated Press.
Di tengah hiruk-pikuk perang, lantunan diplomasi tetap terdengar namun seolah kehilangan makna. Presiden Iran Masoud Pezeshkian memang telah meminta maaf kepada negara-negara tetangga dan menyebut mereka sebagai “sahabat dan saudara.” Namun di saat yang sama, Ketua Kehakiman garis keras Gholam Hossein Mohseni-Ejei menandaskan tidak ada perubahan strategi. Dalam unggahannya di X, ia menyatakan “serangan intens terhadap target-target ini akan terus berlanjut.”
Puncak ketegangan retoris terjadi ketika Presiden AS Donald Trump menyerukan Teheran untuk menyerah tanpa syarat. Jawaban Pezeshkian keras dan puitis sekaligus: “Itu adalah mimpi yang harus mereka bawa ke liang kubur.”