JAKARTA – Dalam peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia, Kartika Soekarno Foundation (KSF) menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan kesehatan ibu dan anak serta meningkatkan kesadaran akan sejarah perjuangan bangsa.
Yayasan yang digagas oleh Kartika Soekarno, putri bungsu Proklamator Soekarno, ini menyerukan bahwa kemerdekaan sejati belum tercapai selama ketidakadilan dan ketidaktahuan masih menghantui masyarakat.
Warisan Soekarno dan Misi Kemanusiaan
Kartika Soekarno menyoroti kompleksitas sejarah kemerdekaan Indonesia yang sering disalahpahami.“Ayah saya, Bung Karno, adalah salah satu bapak pendiri bangsa yang perjuangannya sering disalahtafsirkan. Sama seperti kisah kemerdekaan kita yang penuh dengan lapisan sejarah yang belum sepenuhnya terungkap,” ujarnya.
Berbekal pengalaman sebagai anak Soekarno dan istri warga Belanda, Kartika menegaskan, “Kami percaya bahwa memahami sejarah secara jujur adalah dasar untuk membangun masa depan yang lebih baik.”
Langkah Nyata di Bawah Kepemimpinan Baru
Sejak 2024, KSF dipimpin oleh Dr. Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati yang memperkuat visi yayasan dalam pemberdayaan perempuan dan kesehatan ibu-anak. “Visi kami tetap konsisten: meningkatkan pemberdayaan perempuan dan kesehatan ibu-anak, karena inilah fondasi bangsa yang kuat,” tegasnya.
KSF kini fokus pada tiga pilar Utama yakni, Program kesehatan dan gizi untuk masyarakat di daerah terpencil, Pelatihan keterampilan bagi perempuan untuk mendukung kemandirian ekonomi dan Edukasi kesehatan dan pendidikan berbasis komunitas.
Dampak Nyata dan Tantangan ke Depan
KSF telah menorehkan prestasi signifikan, menjangkau 133.840 anak di 11 provinsi, menurunkan angka stunting hingga 25% di wilayah intervensi, dan melatih 350 kader kesehatan perempuan.“Dulu kita melawan penjajahan fisik, sekarang kita berjuang untuk pendidikan dan kesejahteraan,” katanya
Kartika menegaskan bahwa perjuangan KSF adalah kelanjutan dari semangat kemerdekaan. “Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga dari belenggu ketidaktahuan dan ketidakadilan. Perjuangan ayah saya dan para pahlawan kita akan sia-sia jika kita masih melihat anak-anak Indonesia menderita gizi buruk atau perempuan tidak mendapatkan hak kesehatan yang layak,” ujarnya.
KSF bertekad memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan organisasi internasional untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sehat dan adil. “Ini adalah revolusi kita yang belum selesai,” tutup Kartika.