Kelangkaan chip memori global yang dipicu oleh lonjakan kebutuhan kecerdasan buatan (AI) mulai menekan pasar elektronik konsumen. Harga PC, ponsel pintar, hingga perangkat elektronik rumah tangga melonjak tajam, sementara para analis memperingatkan krisis ini berpotensi berlangsung selama beberapa tahun ke depan.
Penyebab utamanya adalah pergeseran besar-besaran kapasitas produksi chip memori ke pusat data AI. Menurut laporan yang dikutip dari Counterpoint Research, pusat data diperkirakan akan menyerap hingga 70 persen dari total produksi chip memori global pada 2026. Realokasi struktural ini membuat pasokan untuk pasar konsumen semakin menipis.
Sejak Oktober 2025, harga memori global telah meningkat lebih dari dua kali lipat. Situasi ini dinilai belum akan mereda dalam waktu dekat karena industri AI terus menyerap kapasitas produksi pada level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Harga Elektronik Konsumen Mulai Tertekan
Dampak kelangkaan ini kini dirasakan langsung oleh konsumen. Harga memori DDR4 tercatat melonjak hampir 10 persen hanya dalam satu minggu pada awal Januari. Data pasar menunjukkan harga PC DRAM (DDR4 8Gb) mencapai US$9,30 pada Desember 2025, naik drastis dari US$1,35 pada Maret tahun yang sama—lonjakan hampir tujuh kali lipat dalam sembilan bulan.
Firma riset TrendForce memproyeksikan harga kontrak DRAM konvensional masih akan naik 55–60 persen secara kuartalan pada kuartal pertama 2026, menandakan tekanan harga belum mencapai puncaknya.
Produsen elektronik pun mulai menyesuaikan harga. Samsung Electronics mengumumkan seri Galaxy Book6 yang diluncurkan pada 27 Januari akan dijual mulai 3,41 juta won, sementara varian Book6 Ultra dibanderol mulai 4,63 juta won—lebih mahal dibandingkan generasi sebelumnya. LG Electronics juga menaikkan harga notebook Gram Pro AI 2026 sebesar 500.000 won dari model terdahulu.
“Kalau ingin pasokan aman, produsen harus mengamankan alokasi dari sekarang. Bahkan kapasitas produksi untuk 2028 sudah mulai dijual,” ujar analis Counterpoint Research, MS Hwang.
Prospek Pasar Memburuk
Tekanan biaya ini memukul prospek pasar global. International Data Corporation (IDC) merevisi proyeksi pengiriman PC dunia, dari penurunan 2,5 persen menjadi kisaran 4,9–8,9 persen pada 2026. TrendForce juga memperkirakan pengiriman notebook turun 5,4 persen, dengan risiko penurunan hingga 10,1 persen jika tekanan pasokan memburuk.
Pasar smartphone menghadapi tantangan serupa. Counterpoint Research memprediksi pengiriman global turun 2,1 persen, sementara harga jual rata-rata naik hampir 7 persen karena produsen membebankan biaya kepada konsumen. Carl Pei, CEO Nothing, menyatakan kenaikan harga ponsel tak terelakkan. Ia bahkan memperingatkan modul memori yang sebelumnya berharga di bawah US$20 bisa menembus US$100 untuk model kelas atas sebelum akhir tahun.
Efek Domino ke Otomotif dan Elektronik Lainnya
Dampak kelangkaan chip ini tidak berhenti di PC dan smartphone. Laporan The Wall Street Journal menyebutkan gangguan pasokan mulai merambah industri otomotif, televisi, dan elektronik konsumen lainnya. Analis UBS Group memperingatkan harga DRAM dan NAND untuk sektor otomotif telah naik lebih dari dua kali lipat dalam setahun terakhir, dengan produsen mobil di China menghadapi potensi kekurangan chip hingga 50 persen.
Akar masalahnya adalah prioritas produsen chip memori terhadap high-bandwidth memory (HBM) untuk akselerator AI, yang dinilai jauh lebih menguntungkan dibandingkan DRAM konvensional. Produksi HBM memerlukan kapasitas wafer hampir tiga kali lipat dibandingkan DDR5, mendorong produsen seperti Samsung memperluas lini produksi khusus untuk HBM generasi terbaru.
“Saya sudah hampir 20 tahun mengikuti industri memori, dan situasi kali ini benar-benar berbeda,” kata analis TrendForce, Avril Wu. “Ini mungkin periode paling ekstrem yang pernah terjadi.”
