JAKARTA — Di tengah tekanan ekonomi, kebiasaan belanja masyarakat ternyata tidak sepenuhnya berhenti. Justru, muncul pola unik yang dikenal sebagai lipstick effect. Fenomena ini kerap terlihat ketika kondisi finansial sedang tidak ideal, namun minat membeli barang-barang kecil tetap bertahan.
Dilansir dari Treasury, lipstick effect merujuk pada kecenderungan seseorang mengalokasikan uang untuk produk berharga relatif terjangkau, seperti lipstik, kopi kekinian, atau camilan favorit, di saat situasi ekonomi menantang. Produk-produk tersebut dipilih bukan semata karena kebutuhan, melainkan karena mampu memberi rasa senang secara emosional.
Kondisi ekonomi yang naik-turun, mulai dari inflasi, deflasi, hingga resesi, disebut dapat memperkuat perilaku ini. Dalam situasi serba terbatas, konsumen cenderung menyesuaikan diri dengan cara mencari kebahagiaan versi kecil yang masih bisa dijangkau.
Leonard Lauder, mantan CEO Estée Lauder, adalah tokoh yang pertama kali mencetuskan lipstick effect. Ia mengamati adanya lonjakan penjualan lipstik ketika ekonomi global melemah. Saat pengeluaran untuk barang mewah ditekan, konsumen justru memilih alternatif yang lebih sederhana, namun tetap memberi rasa puas.
Penyebab Lipstick Effect
Dilansir dari Banksqu, fenomena ini berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk tetap merasa baik-baik saja di tengah tekanan hidup. Berikut beberapa faktor utama yang mendorong lipstick effect, dirangkum dalam poin-poin berikut:
1. Pelarian dari Tekanan Emosional
Saat kondisi ekonomi memburuk, rasa cemas dan stres kerap meningkat. Membeli barang kecil yang menyenangkan bisa menjadi cara singkat untuk “menghibur diri” dan memberi kesan bahwa hidup masih berada dalam kendali.
2. Dorongan Dopamin dari Aktivitas Belanja
Proses membeli sesuatu, sekecil apa pun, memicu pelepasan dopamin di otak. Hormon ini menimbulkan sensasi senang yang cepat dirasakan, sehingga belanja kecil sering dijadikan penambah mood di tengah hari yang berat.
3. Bentuk Harapan dan Optimisme
Pembelian sederhana kerap dimaknai sebagai sinyal bahwa keadaan belum sepenuhnya buruk. Selama masih bisa menikmati hal kecil, muncul keyakinan bahwa situasi sulit ini masih bisa dilalui.
4. Pengaruh Gaya Hidup Digital
Media sosial turut memperkuat budaya konsumtif. Paparan konten gaya hidup yang tampak menyenangkan membuat banyak orang terdorong mengikuti tren, meski kondisi keuangan sebenarnya sedang perlu dihemat.
5. Harga yang Masih Masuk Akal
Produk yang terkait dengan lipstick effect umumnya tidak semahal barang premium. Karena nominalnya relatif kecil, pembelian ini sering dianggap wajar. Namun, jika dilakukan berulang tanpa kontrol, dampaknya tetap bisa terasa pada keuangan.
Fenomena lipstick effect menunjukkan bahwa di balik angka dan grafik ekonomi, ada sisi manusiawi dalam cara orang bertahan. Di masa sulit, kebahagiaan kecil sering kali menjadi pilihan paling realistis untuk tetap merasa baik.