JAKARTA – Perguruan tinggi di Amrika Serikat tengah menghadapi fenomena tak biasa. Mahasiswa genarasi Z (gen Z) yang baru masuk kuliah menunjukkan kemampuan membaca yang sangat rendah, memaksa para pengajar menurunkan standar akademik agar proses belajar tetap berjalan.
Laporan Fortune, yang dikutip dari CNBC, Senin (26/1/2026), mengungkapkan sejumlah profesor di kampus ternama mengaku kesulitan memberi tugas membaca karena kemampuan memahami teks mahasiswa dinilai menurun drastis.
Profesor Sastra di Pepperdine University, Jessica Hooten Wilson, menuturkan mahasiswa Gen Z bukan hanya kesulitan berpikir kritis, tetapi bahkan tidak mampu membaca sebuah kalimat.
“Saya merasa harus membaca keras-keras karena tidak ada yang membaca malam sebelumnya,” kata Wilson.
“Bahkan ketika dibacakan di kelas, masih banyak hal yang tidak mampu mereka proses dari kata-kata yang ada di halaman,” imbuhnya.
Wilson terpaksa menghapus tugas membaca di luar kelas dan menggantinya dengan pembacaan bersama baris demi baris di kelas, meski metode itu tetap tidak efektif.
Fenomena serupa terjadi di University of Notre Dame. Profesor Teologi Timothy O’Malley menyebut menurunnya ekspektasi akademik sebagai perubahan besar. Ia dulu memberi tugas membaca 25–40 halaman per kelas, tetapi kini jumlah itu dianggap mustahil dilakukan mahasiswa.
“Hari ini, jika Anda memberikan bacaan sebanyak itu, mereka sering kali tidak tahu harus bagaimana,” ujarnya.
“Mereka dibentuk dengan pola membaca yang hanya scanning,” tambahnya, seraya menyebut banyak mahasiswa kini bertahan dengan ringkasan dari AI.
Sejumlah akademisi menilai penurunan literasi Gen Z tak lepas dari faktor struktural: sistem pendidikan yang rapuh, pembelajaran terputus akibat pandemi COVID-19, serta kebiasaan konsumsi informasi yang bergeser dari teks ke video dan audio.
Data nasional turut mencerminkan tren ini. Dalam 20 tahun terakhir, jumlah orang dewasa di AS yang membaca untuk hiburan turun 40 persen. Survei Program for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC) menemukan 59 juta warga membaca pada level kompetensi terendah.
Dengan kata lain, generasi muda di AS hampir tidak mampu berhadapan dengan teks tertulis. Tanpa perubahan besar dalam sistem pendidikan, Gen Z berisiko bukan menjadi generasi terakhir dengan tingkat literasi lebih rendah dibanding pendahulunya.
