Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, memasuki hari keenam pada Kamis (29/1/2026).
Hingga hari ini, tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi dua kantong jenazah tambahan, sehingga total korban yang ditemukan mencapai 55 kantong jenazah. Sementara itu, sekitar 25 orang masih dinyatakan hilang dan terus dicari.
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, menyampaikan bahwa proses pencarian dihadapkan pada kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Sejak pagi, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terus mengguyur lokasi bencana.
“Cuaca yang tidak menentu, visibilitas terbatas, serta kejenuhan tanah yang meningkat membuat potensi longsor susulan masih tinggi,” ujar Ade.
Dua kantong jenazah terakhir ditemukan di sektor pencarian A1, masing-masing pada pukul 14.32 WIB dan 15.00 WIB.
Pencarian Dilakukan Bertahap demi Keselamatan
Dalam kondisi medan yang berisiko, operasi SAR dilakukan secara selektif dengan pola on-off, dengan keselamatan personel sebagai prioritas utama. Sebanyak 17 unit alat berat dikerahkan untuk mempercepat proses pencarian, yang saat ini difokuskan di sektor A1 dan A2, serta mulai diperluas ke sektor A3.
Berdasarkan hasil identifikasi Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat, hingga Kamis sore sebanyak 41 korban telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada pihak keluarga.
KLH dan ITB Lakukan Kajian Lingkungan
Di sisi lain, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk melakukan kajian lanskap di wilayah terdampak longsor. Langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi jangka panjang guna mengantisipasi dampak krisis iklim dan alih fungsi lahan yang dinilai memperbesar risiko bencana hidrologi.
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH, Rasio Ridho Sani, menjelaskan bahwa kajian tersebut akan difokuskan pada pemetaan risiko dan penataan wilayah rawan bencana.
“Kami melakukan kajian lanskap bersama tim ITB yang dipimpin oleh Dr. Imam Ahmad Sadisun untuk merumuskan langkah strategis ke depan,” ujar Rasio di Kampus ITB.
Longsor Dipicu Jebolnya Bendungan Alami
Pakar geologi longsoran ITB, Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, mengungkapkan bahwa longsor di Cisarua tergolong aliran lumpur (mudflow). Peristiwa ini dipicu oleh jebolnya bendungan alami di bagian hulu sungai.
“Ketika bendungan alami tidak lagi mampu menahan tekanan air, terjadi jebolan yang memicu aliran lumpur ke arah hilir, mengikuti jalur sungai dan membawa material dalam jumlah besar,” jelasnya.