Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, secara resmi menyatakan tidak bersalah atas tuduhan perdagangan narkoba federal saat menjalani sidang perdana di pengadilan Manhattan, New York, pada Senin waktu setempat. Sidang ini digelar hanya dua hari setelah keduanya ditangkap pasukan khusus Amerika Serikat dalam operasi militer dramatis di Caracas yang memicu gejolak geopolitik dan mengguncang pasar global.
Penangkapan tersebut merupakan bagian dari operasi akhir pekan bertajuk “Operation Absolute Resolve”, di mana pasukan elit Delta Force dilaporkan menerobos kompleks kepresidenan Venezuela pada Sabtu dini hari, 3 Januari. Maduro dan Flores kemudian diterbangkan ke Amerika Serikat untuk menghadapi dakwaan narko-terorisme, konspirasi perdagangan kokain, serta pelanggaran terkait senjata.
Presiden AS Donald Trump menyebut operasi itu sebagai langkah tegas terhadap kejahatan lintas negara. Ia juga menyatakan Amerika Serikat akan sementara “mengelola” Venezuela, seraya berjanji membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan energi AS untuk menginvestasikan miliaran dolar guna memulihkan infrastruktur minyak Venezuela yang selama ini lumpuh.
Pasar Global Bereaksi Beragam
Perkembangan geopolitik tersebut langsung memicu pergerakan signifikan di pasar keuangan. Harga emas melonjak 2,7% pada perdagangan Senin sore, menyentuh kisaran US$4.444 per ons, level tertinggi dalam sepekan, seiring meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai (safe haven). Harga perak bahkan sempat melonjak hingga 7% dalam sesi perdagangan.
Di pasar saham, sektor energi Amerika Serikat memimpin penguatan. Chevron—satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di Venezuela—mencatat kenaikan lebih dari 5%. Saham perusahaan kilang melonjak lebih tajam, dengan Valero Energy naik hampir 10%, sementara Marathon Petroleum dan Phillips 66 menguat sekitar 6–7%. Perusahaan jasa ladang minyak seperti Halliburton dan SLB turut melesat antara 8–11%.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 1,2%, mendekati level rekor 49.000 poin, meski indeks pasar yang lebih luas mencatat kenaikan yang relatif moderat. Sementara itu, harga minyak mentah Brent bergerak stabil di kisaran US$61 per barel, mencerminkan keseimbangan antara pasokan global yang melimpah dan potensi gangguan geopolitik jangka panjang.
Perhatian Investor Beralih ke Data Ekonomi AS
Meski situasi Venezuela menjadi sorotan global, para analis mencatat bahwa pasar dengan cepat mengalihkan fokus ke agenda ekonomi Amerika Serikat pekan ini, khususnya laporan ketenagakerjaan Desember yang dijadwalkan rilis pada Jumat. Para ekonom memperkirakan penambahan sekitar 55.000 lapangan kerja, dengan tingkat pengangguran diproyeksikan turun ke 4,5%.
“Meskipun risiko geopolitik meningkat, pasar tidak bisa terlalu lama terpaku pada satu peristiwa,” ujar James Stretch dari CIBC Capital Markets. Pelaku pasar saat ini memperhitungkan kemungkinan dua kali penurunan suku bunga Federal Reserve tahun ini, dengan data ketenagakerjaan menjadi faktor penentu arah kebijakan moneter selanjutnya.
Senada, Alexander Zumpfe, trader logam mulia di Heraeus Metals Jerman, menilai bahwa krisis Venezuela telah kembali mengaktifkan permintaan aset safe haven. “Namun hal ini datang di atas kekhawatiran yang sudah ada terkait geopolitik global, pasokan energi, dan ketidakpastian kebijakan moneter,” ujarnya.
