JAKARTA – Artis Manohara Odelia membuat pengumuman mengejutkan melalui akun media sosialnya. Ia menegaskan tidak ingin lagi disebut sebagai mantan istri Pangeran Kelantan, sebuah label yang menurutnya tidak mencerminkan kenyataan pahit di masa lalu.
Manohara meminta perhatian khusus dari media di Indonesia yang kerap menulis artikel dengan menyebut dirinya sebagai mantan Tengku Muhammad Fakhry Petra. Pernyataan itu disampaikan lewat unggahan di akun Instagram @manodelia, Selasa (6/1/2026).
“Selama bertahun-tahun, saya berulang kali disebut dalam artikel dan judul berita sebagai ‘Mantan Istri [kosong]’. Saya menulis surat ini untuk dengan hormat mengklarifikasi bahwa deskripsi ini tidak akurat dan menyesatkan,” tulisnya.
Ia menegaskan bahwa pernikahan yang dijalani saat remaja bukanlah hubungan romantis, bukan atas persetujuan bersama, dan tidak sah secara hukum. “Tidak pernah ada hubungan yang saya inginkan, setujui, atau jalani secara sukarela,” ujarnya.
Manohara menambahkan, saat itu ia masih di bawah umur dan berada dalam situasi paksaan serta tidak memiliki kebebasan untuk memberikan persetujuan. Menurutnya, istilah “mantan istri” menyiratkan pernikahan sah dan sukarela, padahal kenyataannya berbeda.
“Penggunaan istilah ‘mantan istri’ menyiratkan hubungan dan pernikahan yang sah, sukarela, dan dewasa. Implikasi itu salah. Ini membingkai ulang situasi paksaan sebagai hubungan yang sah dan mendistorsi realitas dari apa yang terjadi,” tegasnya.
Karena itu, Manohara meminta media, editor, penulis, hingga platform digital untuk berhenti menggunakan label tersebut. “Terus menerbitkan artikel dengan penggambaran yang salah ini bukan hanya tidak akurat, tetapi juga merupakan jurnalisme yang tidak etis,” lanjutnya.
Dalam unggahan lain, Manohara menyinggung soal pelecehan yang dialaminya. Ia menolak kekerasan seksual dibingkai sebagai sebuah hubungan. “Ketika seseorang menjadi korban pelecehan seksual, kita tidak menyebut mereka sebagai mantan pacar pelaku. Kita tidak membingkai kekerasan seksual sebagai sebuah hubungan,” tulisnya.
Manohara mengingatkan bahwa saat peristiwa itu terjadi, ia berusia 15 tahun sementara pria yang terlibat berusia 30-an. “Tidak ada kencan, tidak ada hubungan, dan tidak ada persetujuan. Apa yang terjadi adalah paksaan,” tegasnya.
Menurutnya, menyebut korban sebagai “mantan pasangan” justru mengalihkan fokus dari kerugian yang dialami. “Ketika pelecehan berulang kali digambarkan sebagai sebuah hubungan, itu mengajarkan masyarakat untuk melihat paksaan sebagai persetujuan, dan anak-anak sebagai peserta, bukan korban. Pola pikir itu menyebabkan kerugian nyata, bukan hanya bagi saya, tetapi juga bagi gadis-gadis lain,” pungkasnya.