AMSTERDAM, BELANDA – Gelombang teror anti-Islam kini merambat ke Belanda setelah sebelumnya mengguncang Prancis. Sembilan masjid di berbagai kota besar negara Eropa tersebut menjadi korban surat ancaman berisi pesan kebencian yang disiramkan cairan merah menyerupai darah, memicu kekhawatiran akan eskalasi intoleransi agama di benua biru.
Menurut laporan surat kabar Belanda AD, serangan surat intimidasi ini menargetkan masjid-masjid di kota-kota Rotterdam, Eindhoven, Arnhem, Tilburg, serta Den Haag. Surat-surat tersebut tidak hanya memuat tulisan fitnah dan hinaan terhadap ajaran Islam, tetapi juga dilengkapi dengan kartun yang menghina Nabi Muhammad SAW serta narasi palsu tentang pembatasan dalam praktik keagamaan Muslim.
Salah satu pesan paling mengancam berasal dari surat yang diterima masjid di Rotterdam, yang secara eksplisit menyatakan bahwa Islam akan “berakhir di Eropa”. Insiden ini menambah daftar panjang kasus diskriminasi terhadap komunitas Muslim di Eropa Barat, di mana serangan verbal dan fisik terhadap tempat ibadah semakin marak sejak tahun-tahun terakhir.
Joram van Klaveren, pejabat Asosiasi Masjid Nasional K9, mengecam keras aksi tersebut sebagai upaya sistematis untuk menimbulkan ketakutan di kalangan jemaah. “Ini adalah bentuk intimidasi dan ancaman,” kata Joram van Klaveren, pejabat Asosiasi Masjid Nasional K9, seraya menambahkan surat-surat itu penuh dengan retorika kebencian, seperti dilaporkan kembali Anadolu.
Otoritas Belanda kini sedang menyelidiki asal-usul surat-surat tersebut, dengan polisi setempat meningkatkan pengawasan di sekitar masjid-masjid yang terdampak.
Kasus serupa di Prancis baru-baru ini telah memicu perdebatan nasional tentang keamanan minoritas agama, dan para aktivis hak asasi manusia mendesak pemerintah Eropa untuk bertindak tegas terhadap kelompok ekstremis yang di balik teror ini.
Insiden teror masjid di Belanda ini menyoroti tren naiknya Islamofobia di Eropa, di mana laporan dari organisasi seperti Amnesty International mencatat peningkatan 20% kasus kebencian agama sejak 2024.
Komunitas Muslim Belanda, yang berjumlah sekitar 1 juta jiwa, menyerukan solidaritas lintas agama untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Pihak berwenang berharap penyelidikan segera mengungkap pelaku, sambil menekankan komitmen melindungi kebebasan beragama di negara demokrasi tersebut.
