SUMSEL – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya memberikan manfaat gizi bagi anak-anak sekolah, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat yang selama ini sulit mendapatkan pekerjaan, termasuk mantan narapidana.
Salah satu kisah yang mencerminkan dampak program tersebut datang dari Bayu Susanto, seorang mantan narapidana yang kini bekerja sebagai sopir distribusi makanan dalam program MBG di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel).
Melalui program yang dijalankan pemerintah tersebut, Bayu akhirnya menemukan kesempatan baru untuk menata kembali kehidupannya setelah sebelumnya berkali-kali menghadapi penolakan saat melamar pekerjaan.
Kesulitan mencari pekerjaan menjadi realitas pahit yang dialami Bayu setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan pada awal 2019.
Status sebagai mantan narapidana membuat banyak pintu pekerjaan tertutup bahkan sebelum ia sempat menunjukkan kemampuannya.
“Susah, Pak, nyari kerjaan. Di mana-mana susah,” kata Bayu di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ucu Jaya, Kecamatan Lempuing, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Kamis (5/3), mengenang masa-masa setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan beberapa tahun silam.
Bayu diketahui pernah menjalani hukuman penjara pada tahun 2018 setelah terjerat kasus kriminal.
Ia sempat dijatuhi vonis tiga tahun penjara, namun hanya menjalani masa tahanan selama sekitar satu tahun delapan bulan karena mendapatkan remisi.
“Divonis tiga tahun, menjalani satu tahun delapan bulan, potong remisi,” ujarnya.
Selama menjalani masa percobaan di lembaga pemasyarakatan, Bayu sempat dipercaya menjalankan tugas sebagai sopir pendamping kepala pengamanan lembaga pemasyarakatan (KPLP).
Dalam tugas tersebut, ia mengantar narapidana yang sakit ke fasilitas kesehatan serta membantu proses pemindahan tahanan.
Namun setelah benar-benar bebas dari lingkungan lapas, kehidupan tidak langsung berubah menjadi lebih mudah.
Ia sempat mencoba berbagai pekerjaan, termasuk menjadi sopir, tetapi pekerjaan tersebut sering tidak bertahan lama.
Kesempatan baru akhirnya datang ketika dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjalankan program MBG berdiri di wilayah tempat tinggalnya.
Bayu kemudian diterima bekerja sebagai sopir distribusi makanan yang mengantarkan paket makan bergizi ke sekolah-sekolah dan posyandu.
Setiap hari Bayu memulai aktivitasnya sejak pagi buta untuk memastikan distribusi makanan berjalan tepat waktu.
“Kita mulai kerja di shift berangkat dari jam setengah 6. Kita mulai pengecekan mobil, lalu kita menaikkan ompreng,” katanya.
Setelah semua persiapan selesai dilakukan, ia bersama tim kemudian mulai mengirimkan makanan kepada para penerima manfaat di sejumlah sekolah.
“Standby ompreng jam 8.00, kita berangkat ke sekolahan untuk anak-anak,” ujarnya.
Bayu merupakan satu dari empat sopir yang bertugas mengantarkan makanan MBG di wilayah tersebut.
Ia bertanggung jawab mendistribusikan makanan ke sejumlah titik layanan pendidikan dan kesehatan masyarakat.
“Pengantaran saya ada 4 titik, yaitu di Sindangsari, sama Kepayang, sama TK Al Amin, sama TK PAUD. Ada juga posyandu dua titik untuk di Sindang sama Desa Kepayang,” katanya.
Dalam menjalankan tugas tersebut, Bayu mengaku kerap menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Ia harus berpacu dengan waktu agar makanan tiba tepat waktu di sekolah-sekolah tujuan.
“Kalau dibilang enak ya suka duka, Pak. Kadang makan kita terlambat karena masih di sekolah. Kadang dimarahin guru karena telat. Di jalan ngebut juga dimarahin orang. Banyak rintangan, Pak,” ujarnya.
Meski demikian, Bayu tetap merasa bersyukur karena akhirnya memiliki pekerjaan yang bisa menopang kehidupan keluarganya.
“Alhamdulillah adanya MBG ini saya bisa kerja, bisa untuk makan sehari-hari,” kata Bayu.
Kini kehidupan Bayu juga semakin lengkap setelah ia membangun keluarga kecil.
Ia dan istrinya telah dikaruniai seorang anak yang masih berusia empat bulan.
“Sudah, satu anak, baru umur 4 bulan,” ujarnya.
Bagi Bayu, pekerjaan sebagai sopir distribusi makanan MBG bukan sekadar rutinitas mencari nafkah.
Pekerjaan itu menjadi simbol kesempatan kedua untuk memperbaiki masa depan setelah masa lalu yang penuh tantangan.
Ia berharap program MBG dapat terus berjalan sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya.
“Harapan saya ke depan semoga MBG terus berlanjut dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat, khususnya bagi kami para mantan narapidana,” kata Bayu.
Di balik aktivitas distribusi makanan bergizi bagi anak-anak sekolah, program MBG juga menghadirkan kisah tentang kesempatan kedua bagi mereka yang ingin memulai hidup baru, seperti yang kini dijalani Bayu Susanto.***
