JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti memberikan dampak positif signifikan terhadap peningkatan konsentrasi dan fokus belajar siswa di sekolah, berdasarkan hasil survei evaluasi terbaru dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Survei yang dilakukan melalui Pusat Penguatan Karakter ini terintegrasi dalam Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH), khususnya pada aspek kebiasaan makan sehat dan bergizi. Evaluasi mencakup tahap baseline Mei–Juni 2025 hingga endline November–Desember 2025, serta melibatkan lebih dari 1,2 juta siswa sebagai responden secara nasional.
Data menunjukkan bahwa sekolah yang menerapkan MBG mengalami penurunan gangguan belajar akibat rasa lapar dengan rata-rata 2,37 poin persentase lebih besar dibandingkan sekolah nonpenerima. Efeknya lebih mencolok di wilayah Indonesia Timur, di mana penurunan tersebut mencapai 14,85 poin persentase lebih tinggi pada sekolah penerima program dibandingkan sekolah yang belum berpartisipasi.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi PKB, Lalu Hadrian Irfani, menyambut baik temuan ini. Ia menilai program tersebut sebagai langkah strategis pemerintah dalam memastikan pemenuhan gizi siswa.
“Data ini menunjukkan bahwa pemenuhan gizi memiliki korelasi langsung dengan kualitas pembelajaran. Program MBG bukan sekadar bantuan makanan, tetapi merupakan investasi jangka panjang dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” ujar Lalu, Kamis (19/2/2026).
Meski demikian, Lalu menekankan perlunya perbaikan berkelanjutan agar program ini tidak menimbulkan masalah baru. Ia menyoroti laporan kasus makanan basi serta keracunan yang masih muncul di lapangan, sehingga pengawasan perlu diperketat.
“Perbaikan harus terus dilakukan. Jangan sampai program yang tujuannya sangat baik justru menimbulkan persoalan baru. Standar keamanan pangan, distribusi, hingga pengawasan harus diperkuat,” tegasnya.
Komisi X DPR RI mendorong Kemendikdasmen untuk terus memberikan masukan dan rekomendasi kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai penanggung jawab teknis pelaksanaan MBG. Sinergi antarlembaga diharapkan dapat memastikan program berjalan lebih optimal, tepat sasaran, dan berkelanjutan.
Lalu berharap MBG dapat terus diperluas, terutama menjangkau wilayah tertinggal dan Indonesia Timur, guna memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan nasional serta pembentukan generasi yang lebih sehat dan berprestasi.